Tampilkan postingan dengan label Apresiasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apresiasi. Tampilkan semua postingan

Lebaran bersama Coto Makassar dan Coto Maros

31 Juli 2014 0 Komentar

JIKA di banyak daerah di Indonesia, opor ayam, rendang atau semur menjadi hidangan utama dalam merayakan lebaran Idul Fitri, namun di Makassar dan Maros hidangan lebaran adalah coto sebagai pasangan ketupat atau burasa.

coto makassar

Hidangan berupa sop dengan bahan dasar daging dan jeroan sapi ini berpadu dengan racikan bumbu yang sangat khas. Namun bagi yang tak ingin mengonsumsi daging sapi atau jeroan, coto makassar kadang dimodifikasi memakai daging ayam. Bahkan di sejumlah daerah di Sulsel, ada coto yang memakai daging kuda.

Menurut asalnya, dulu coto makassar awalnya dihidangkan di kalangan istana Kerajaan Gowa dan menjadi sarapan para pengawal kerajaan sebelum bertugas. Sajian ini diperkirakan telah ada sekira tahun 1538.

Coto ini juga diduga terinspirasi dari kuliner Cina, karena menggunakan sambal yang sangat khas dengan penambahan taoco. Namun coto makassar memiliki ciri khasnya tersendiri, yaitu kuahnya yang kental dengan ramuan rempah-rempah yang melimpah.

Bahkan konon, soto babat, soto betawi dan soto tegal juga terinspirasi dari coto makassar yang dibawa ke Pulau Jawa oleh para pelaut Makassar.

Selain coto makassar, juga dikenal coto maros, kedua hidangan ini berbahan dasar sama. Terdiri dari daging sapi, hati, usus, paru yang dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, serai, laos, ketumbar, jintan, garam halus, daun salam, kacang, dan jeruk nipis.

Perbedaannya terletak pada kuahnya. Kuah coto maros lebih terasa kacang gilingnya dan kadang berwarna lebih putih karena air berasnya lebih kental. Hidangan ini menjadi pelengkap perayaan lebaran di sejumlah rumah jika berlebaran di Makassar dan Maros.

Tentu nikmat berlebaran bersama coto makassar dan coto maros sebagai hidangan pelengkap ketupat dan burasa. (*)

Berbagi dan Menggali Pengetahuan dari Google

19 September 2013 0 Komentar

ANDAI internet sudah ada sejak berabad-abad lampau, pasti tidak pernah ada sekolah. Andai Google sudah ada sejak jaman pithecanthropus erectus, manusia modern tak bakal pernah mengenal perguruan tinggi. Sebabnya, Google sudah menyediakan hampir semua ilmu pengetahuan bagi umat manusia.

education

Menyadur artikel 'Google Merevolusi Cara Belajar' dari laman kopikental.com, bagi sebagian orang, internet digunakan sekadar untuk menjalin koneksi dengan orang lain dan Google berfungsi sebatas laman pencarian. Tapi bagi sebagian yang lain, internet dan Google dimanfaatkan untuk berbagi ilmu pengetahuan serta menggali ilmu pengetahuan baru.

Kendala bahasa tak lagi jadi soal karena Google sudah menyediakan Google Translate. Jika menemui tutorial bagus tapi berbahasa asing, cukup meng-copy dan paste teksnya pada halaman Google Translate, dan sesuaikan dengan terjemahan bahasa yang diinginkan.
Hasil terjemahannya memang cenderung sekadar menerjemahkan kata per kata sehingga seringkali tidak sesuai konteks. Tetapi, hal itu sudah lumayan membantu.

Jika malas membaca instruksi-instruksi pada tutorial yang berbentuk teks, di Google juga tersedia tutorial dalam bentuk video (kebanyakan dari Youtube) yang menampilkan cara-cara pengoperasian, tahap demi tahap, dari awal hingga akhir. Tutorial yang begini lebih gampang diikuti karena tanpa teks dan suara pun masih bisa menyimak videonya.

Cara semacam itu tentu tidak hanya dapat diterapkan pada pengetahuan teknis semacam desain grafis, tetapi juga pada bidang lain. Misal, cara memasak, merawat tanaman atau hewan peliharaaan, membuat ramuan tradisional untuk mengobati penyakit tertentu, memodifikasi atau mengutak-atik mesin sepeda motor/mobil, trik atau tips bermain alat musik, teknik menendang bola, dan lain-lain.

Mensin pencarian paling populer sejagat itu juga menyediakan tutorial memperbaiki komputer/notebook/ponsel yang rusak, mengutak-atik tampilan web/blog melalui HTML, membuat pemancar radio/televisi/internet nirkabel, membuat film independen, merekam musik, mendesain rumah idaman, dan masih (sangat) banyak lagi.

Tak hanya itu. Belakangan, muncul tren "kuliah online" (istilah karangan penulis) dari para dosen, profesor ternama atau pakar di bidang tertentu dari seluruh dunia. Gratis dan boleh bolos suka-suka. Cukup mengetikkan kata-kata tertentu pada kolom pencarian Google.

Misalnya, "Steve Jobs Stanford Commencement Speech" atau "Bill Gates Speech at Harvard" atau "Philosophy Lecture: Justice" atau "Kuliah Umum Menteri BUMN RI - Dahlan Iskan" atau "Kuliah Umum: Asal-usul Kecerdasan Manusia oleh Dr Daoed Joesoef" dan sejenisnya. Google akan segera menampilkan video-video kuliah umum yang diunggah di Youtube.

Sejumlah akademisi dari beragam disiplin ilmu pengetahuan, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sengaja merekam kuliah regulernya di ruang-ruang kelas di kampusnya dan mengunggahnya di Youtube. Seluruh dunia dapat menyimak kuliah tersebut tanpa harus berada di kelas sang dosen.

Di Indonesia, kuliah semacam itu (mengunggah video kuliah di Youtube atau kuliah online ala Harvard) belum (terlalu) populer. Sebab, selain membutuhkan jaringan internet yang memadai, juga memerlukan perangkat-perangkat lain serta keterampilan tertentu, seperti teknik pengambilan gambar atau penyuntingan video, dan sebagainya. Tapi, itu hanya soal waktu: cepat atau lambat.

Bukan mustahil dan hanya soal cepat atau lambat pula, kelak anak-anak sekolah dasar untuk belajar membaca dan menulis, belajar menghitung, belajar menyanyi, belajar menggambar dan lain-lain, tidak perlu lagi ke sekolah melainkan cukup mengakses Google.

Cara belajar mereka tentu akan jauh lebih variatif karena gurunya adalah umat manusia di jagat ini. Mereka dapat berinteraksi: berbagi pengetahuan maupun bertanya, kepada siapa pun. Mereka juga tak akan lagi menggambar gunung dengan satu warna hijau saja, karena pasti akan lebih banyak referensi untuk menggambar gunung.

Nah, jika sudah begitu, sekolah akan kembali pada fungsi semula, yakni kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka: bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa kanak-kanak dan remaja.

Sebab, kata sekolah yang berasal dari bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola, memiliki arti waktu luang atau waktu senggang. Dengan demikian, bersekolah akan menjadi aktivitas yang menyenangkan, sama seperti bermain.

Bukan hanya itu. Proses belajar, dalam konsep pendidikan yang membebaskan, seperti dikatakan Paulo Freire, bukan seperti sistem bank --sebagaimana terjadi sekarang-- yang menganggap peserta didik sebagai tabungan yang akan selalu menerima ilmu dari guru. Dalam proses ini, guru dianggap paling mengerti sedangkan siswa tidak tahu apa-apa. Ruang-ruang kelas membelenggu jiwa bebas dan pikiran mereka.

Freire menyatakan konsep pendidikan problem posing education (pendidikan hadap masalah), yakni guru berperan sebagai teman murid yang memotivasi untuk berpikir kritis. Hal yang demikian penting dalam sudut pandang pendidikan yang membebaskan, agar manusia menjadi tuan dalam pemikirannya sendiri, dengan berdiskusi tentang pikiran dan pandangannya tentang dunia dengan orang-orang di sekitarnya.

Belajar ala Google sangat memungkinkan terjadinya hal itu, karena ia melibatkan interaksi seluruh manusia dari beragam bangsa dan negara. (*)

Minal Aidin wal Faizin adalah Penggalan Doa

8 Agustus 2013 0 Komentar



Hari ini lebaran, ucapan "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin" kembali tersebar melalui kartu ucapan, pesan singkat ponsel (SMS), spanduk, juga baligho.Serta diucapkan lisan.

Kebiasaan penulisan dan pengucapan kalimat ini membuat banyak orang mengira kalau arti kalimat Minal Aidin wal Faizin adalah Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Padahal kalimat Minal Aidin wal Faizin adalah penggalan doa yang berarti; "Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan." Meski diikuti dengan kalimat Mohon Maaf Lahir dan Batin, kalimat Minal Aidin wal Faizin tidak mempunyai makna serupa, sebab merupakan bagian dari doa untuk diaminkan.

Isi lengkap doa itu adalah; Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Jaalanallahu Minal Aidin Wal Faizin, yang artinya; “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan."

O iya, selain kesalahpahaman makna, kalimat Minal Aidin wal Faizin juga kadang ditulis salah, misalnya;

  • Minal Aidzin wal Faidzin = salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad Arab
  • Minal Aizin wal Faizin = salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”
  • Minal Aidin wal Faidin = salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”
  • Minal ‘Aidin wal Faizin = benar, sesuai ejaan Arab
  • Minal Aidin wal Faizin = benar, berdasar ejaan Indonesia

Maka, ada baiknya jika ingin menulis atau menyampaikan ucapan Idul Fitri sebutlah isi lengkap doa di atas. Boleh, dengan menambahkan kalimat, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Lantas bagaimana kebiasaan menyampaikan ucapan hari raya Idul Fitri di masa Rasulullah? Menurut sejumlah sumber, para Sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat TaqobalaLLaahu Minnaa wa Minkum di antara mereka. Arti kalimat ini adalah: Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan.

Para sahabat juga biasa menambahkan: Shiyamana wa Shiyamakum, artinya : semoga juga puasaku dan kalian diterima. Namun bila ditambah kata-kata Taqobal Yaa Karim, artinya: Semoga (Terimalah do'a kita) Ya ALLAH, Yang Maha Terpuji.

Akhir kata, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. | **

Rahasia Sebuah Tulisan: Simpel.

16 Maret 2013 0 Komentar



KELAS menulis Macz Indie Books (MIB) Maros dan Komunitas Blogger Maros memasuki pertemuan ketiga. Dalam pertemuan sebelumnya, saya menyampaikan ulasan seputar kepenulisan dan memberikan bahan bacaan menulis untuk kreativitas dan berkomunikasi.

Pekan ini, saya mengajak siswa kelas menulis untuk membaca catatan penulis novel best-seller Darwis Tere Liye. Penulis novel “Hafalan Shalat Delisa” yang telah diangkat ke layar lebar ini menulis catatan berjudul "Rahasia Tulisan" dalam fanspage facebooknya. 

Catatan ini cocok untuk menambah wawasan kepenulisan atau menjadi motivasi bagi penulis muda (pemula), simak saja:

Tidak ada tulisan yang buruk, kecuali memang buruk isinya, penuh keburukan. Tidak ada tulisan yang baik, kecuali memang baik isinya, penuh kebaikan. Tidak ada tulisan yang buruk atau baik hanya karena gaya bahasa, titik koma, salah ketik dan sebagainya. 

Bahkan saat manusia pertama kali mengenal tulisan, hanya lewat simbol-simbol terbatas, bukan 26 abjad huruf latin seperti sekarang, tetap saja dia baik atau buruk tergantung isinya.

Tidak ada tulisan yang menyudutkan, kecuali bagi pembaca yang bahkan sebelum membaca memang sudah tersudut. Tidak ada tulisan menyalahkan, kecuali bagi pembaca yang sejak awal sudah merasa bersalah. Tidak ada tulisan yang bisa berakibat sejenis ini kecuali pembacanya yang membiarkannya terjadi.

Tidak ada tulisan yang menginspirasi, kecuali bagi pembaca yang sejak memulai kalimat pertamanya memang sudah menyemai bibit pengharapan. Tidak ada tulisan yang menggugah, mengharukan, kecuali bagi pembaca yang sejak awal membacanya sudah membuka hatinya, bersiap menerima kebaikan. Tidak ada tulisan yang bisa berakibat sejenis ini kecuali pembacanya yang membiarkannya terjadi.

Coba lihat, sebuah novel yang didesain begitu memotivasi, begitu membangkitkan semangat, sia-sia saja saat dibaca orang yang tidak peduli atau memang tidak suka novel. Pun sebuah novel yang ditulis penuh rasa haru, jangankan setetes air mata, yang membaca hanya menyeringai bingung, ini novel apa sih --saat dia memang tidak siap atau tidak cocok atas tulisan jenis tersebut.

Lantas apa yang membuat sebuah tulisan terlihat berbeda?

Saya beritahu. Bahwa dalam dunia tulis menulis, rahasia terbesarnya adalah: relevansi, relevan atau tidak relevan. Apa itu relevansi? Nyambung atau nggak. Dengan bahasa yang lebih simpel, artinya adalah: gue banget atau nggak. 

Sebuah tulisan yang gue banget, selalu berhasil menyentuh sisi-sisi yang hendak dicapai penulisnya. Sebaliknya, tulisan yang tidak relevan bagi pembaca kesulitan membuat pembaca suka. Hanya itu. Tidak ada rahasia besar lainnya.

Nah, maka mulailah menulis dengan paham soal relevansi ini. Pertama-tama, gue banget atau nggak bagi diri sendiri --tidak akan bahagia seorang penulis yang menulis tulisan yang tidak disukainya, tidak 'gue banget'. Pastikan ini terlebih dahulu. 

Kita menulis sesuatu yang gue baget. Berikutnya, baru pastikan gue banget atau nggak bagi orang lain. Gue banget atau nggak bagi penerbit, pembaca, dan sebagainya. Terutama kalau kita berharap tulisan itu dibaca banyak orang. Lain soal kalau untuk konsumsi diri sendiri.

Itulah rahasia sebuah tulisan. Simpel.

Jangan lupa, sertai dengan niat baik, ketulusan, maka tulisan itu akan menjadi amat bertenaga, dan jauh sekali gaungnya. Sungguh jauh sekali gaungnya. Kita tidak pernah tahu, seorang anak remaja, tinggal di pelosok pedalaman, tiba-tiba menjadi begitu bersemangat atas masa depannya selesai membaca sebuah tulisan. 

Seorang anak remaja, tinggal di gemerlap kota, tiba-tiba menjadi paham dan berjanji mendengarkan nasehat orang tuanya setelah membaca sebuah tulisan.

Juga pengaruh ke orang-orang dewasa, juga terhadap orang-orang tua. Gaung tulisan itu bisa jauh sekali. Percayalah. | *

Baku' Maudu' Sebesar Perahu di Tanralili

3 Februari 2013 0 Komentar



Baku' maudu' sebesar perahu ternyata ada juga di lapangan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Melihat perahu-perahu berhias aneka sandang dan pangan berjejer, mengingatkan pada tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Cikoang, Takalar. Namun maudu lompoa Tanralili lebih unik, karena perahu-perahu berhias berjejer di lapangan, bukan di tepi sungai.

Siang ini, Minggu (3/2/2013), sekira 300 perahu dibuat warga menyemarakkan maudu lompoa Tanralili. Perahu-perahu itu tak hanya berhias telur, kaddo minya' dan lauk dalam ember tapi juga sarung, baju kaos, payung. Maudu lompoa ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur dalam kegembiraan masyarakat Tanralili. Ribuan masyarakat hadir berebut telur dan sajian makanan dalam ember yang diletakkan di atas perahu hias.

Ember maudu lompoa Tanralili itu mengajari kita berbagi, mengajak teman makan bersama, tentu mempererat silaturrahmi.. Maudu lompoa Tanralili merupakan tradisi tanpa strata, sebab dalam pesta rakyat tahunan ini warga yang kaya dan miskin, tua dan muda, berbaur bersama berebut telur.

Secara umum, masyarakat Indonesia memang akrab dengan tradisi maulid nabi Muhammad SAW, bahkan peringatan ini juga dilaksanakan secara nasional. Rekan saya, penulis sastra-budaya, Kaimuddin Mbck (www.sangbaco.com) memaparkan peringatan maulid nabi pertama kali dikenalkan oleh Mudzofar Abu Said Al-Qokbury, seorang gubernur Irbil di Iraq pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyuby (1138-113) sekitar tahun 630 hijriah.

Tradisi ini kemudian silang-kait dengan sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan lewat pintu kerajaan pada tahun 1600. Maka 35 tahun kemudian  peringatan maulid nabi dari Sultan Shalahuddin ini mulai mengakar di Sulsel ini dengan tujuan membangkitkan kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasalam serta untuk meningkatkan semangat juang kaum muslimin dunia saat itu. Tepat ketika sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan Kota Yerussalem.

Kembali ke baku' maudu' sebesar perahu di Tanralili, sebenarnya kemeriahan maudu’ lompoa Tanralili ini juga dapat menjadi salah satu daya tarik pariwisata, terutama wisatawan yang menyukai keunikan tradisi, tinggal bagaimana meramu acara ini agar 'layak jual'. Wassalam. | *

Pakai Istilah Blogger atau Narablog?

29 Oktober 2012 0 Komentar

SESEORANG dalam sebuah grup online bertanya, apa padanan kata Blogger dalam Bahasa Indonesia? Saya menjawab Narablog.
narablog

Jawaban ini saya kemukakan berdasarkan sejumlah berita dalam media online yang menggunakan istilah Narablog untuk menyebut Blogger.

Wikipedia, mendefenisikan Narablog sebagai orang-orang yang memakai media blog untuk mempublikasi ekspresi personal. Publikasi ekspresi personal itu bisa berupa teks, foto, audio, video, maupun gabungan dari semuanya.

Narablog juga adalah istilah yang digunakan bagi orang yang memiliki sebuah blog atau lebih.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, Nara berarti orang, maka Narablog digunakan untuk orang atau seseorang yang melakukan penyuntingan terhadap kandungan blog secara berkala maupun tidak menentu.

Saya pribadi mengartikan istilah Narablog sebagai; "orang-orang yang menjadi narasumber dengan menulis narasi dalam blog."

Namun, meski istilah Narablog dianggap baku, namun kebanyakan orang lebih mengenal istilah Blogger. Padahal nama Blogger merupakan salah satu produk Google. Salam Blogger, eh salam Narablog! | *

Blogilicious Maros Meriah, Tampilkan Angngaru

3 September 2012 1 Komentar

TEPUK tangan hadirin yang memadati ruangan begitu riuh saat sejumlah seniman Maros tampil menyajikan tari tradisional dan Angngaru.

blogilicious maros angngaru

Begitulah kemeriahan pembukaan seminar dan workshop blogging nasional Blogilicious 2012 di Maros yang digelar IDBlognetwork dan Komunitas Blogger Maros.

Lebih dari 300 blogger berkumpul memadati ruang baru Kantor Bupati Maros selama dua hari, 1 dan 2 September 2012.

Komunitas Blogger Maros mengaja menampilkan tradisi Angngaru dalam ajang ini sebagai salah satu kekayaan budaya lokal yang dimiliki Maros, daerah tetangga dan penyangga Kota Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Blogilicious 2012 digelar dengan tema #CreativeBlog, bertujuan mengajak anak muda Indonesia menjadi “positive blogger” dan ujung tombak pewarta positif (positive netizen) dalam dunia digital.

Dalam seminar dan workshop ini sejumlah topik menarik dibahas oleh para praktisi blogging dan internet, diantaranya teknik menulis positif dan berkualitas, etika blogging, mobile blogging, SEO (Search Engine Optimization), socialmedia dan buzzing. Ada juga materi blogpreneur, blog monetizing, desain blog serta hacking, carding dan phreaking.

Meski kadang terganggu aliran listrik yang tiba-tiba padam, acara ini tetap berlangsung meriah karena juga diisi lomba dan games memperebutkan hadiah dari PT Telkom Indonesia dan IDBlognetwork.

Maros menjadi kota ke-3 dari 7 kota pelaksana roadblog Blogilicious 2012 #CreativeBlog ini. Menjadi bukti kalau Maros sebagai daerah yang telah pengembangan tekhnologi informasi dan komunikasi (TIK) dan penerapkan konsep cybercity adalah salah satu barometer perkembangan TIK nasional. | foto dari celebesphoto.com

Selamat Idul Fitri. Maaf Lahir Batin

19 Agustus 2012 0 Komentar

ALLAHU Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lailahailallah Huwallahu Akbar. Allahu Akbar Walillahilhamd. Dengan takbir dan tahmid, umat Islam melepaskan bulan Ramadan dan dengan takbir dan tahmid, umat Islam sambut 1 Syawal 1433 H.

lebaran idul fitri

Selama bulan Ramadhan, ruh, jiwa dan hati umat telah terasah dengan amal-amal kebajikan, sehingga hati sebagai wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas takwa yang diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan.

Idul Fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesucianya), mengembalikan bersihnya jiwa karena dibasuh dengan ibadah, zakat, dan saling memaafkan. Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan.

Pada Idul Fitri, manusia yang taat pada takdir Allah meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan terlahir kembali. Jika kita bersedia menerima fitrah yang ada di hari besar ini serta menerjemahkan dengan pikiran dan bahasa sederhana, Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia untuk langkah awal menuju kehidupan lebih baik.

Memang Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir. Masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai perang Badr di akhir Ramadhan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) masih ada perang yang lebih besar untuk menegakkan agama yang benar.

Beragama yang benar adalah nasihat-menasihati, arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan. Sehingga nasihat mengantar orang kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf kalau kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan manusia lain.

Semoga segala aspek kehidupan yang kita jalani selama Ramadhan menjadi titik tolak untuk menjadi lebih baik, mulai dari diri sendiri, kemudian ke saudara, keluarga, tetangga, hingga masyarakat.

Akhirnya, dengan penuh kerendahan hati, kami mengucapkan; "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H/2012 M, maaf lahir-batin". | foto Masjid 99 Al Makazzary (masjid terapung pertama di Indonesia, terletak di Pantai Losari, Makassar)

Keutamaan Sholat Tarawih dan Qiyamullail

27 Juli 2012 0 Komentar

Keutamaan Sholat Tarawih dalam Durratun Nashihin SAAT ramadhan, ummat Islam disunatkan melakukan sholat tarawih dan mengisi malam-malam Ramadhan dengan memperbanyak ibadah.

Sebagai bulan penuh berkah dan ampunan, ramadhan menjadi sarana memperbanyak ibadah.

Dalam kitab "Durratun Nashihin" (halaman 66/67 BAB 4) diceritakan Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan (fadhilah) sholat tarawih, Nabi SAW kemudian menjawab makna sholat tarawih/qiyamullail dalam tiap malam ramadhan, yakni:

  • Malam 1 - diampuni dosanya, bersih seperti bayi yang baru lahir.
  • Malam 2 - diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya yang mukmin.
  • Malam 3 - malaikat memanggilnya dari bawah "Arasy" segeralah kamu beramal karena Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
  • Malam 4 - diberikan pahala sebanyak pahala membaca Taurat, Injil, Jabur dan Al Qur'an.
  • Malam 5 - diberikan pahala seperti pahala shalat di Masjidil Haram, masjid Nabawi dan Masjid Aqsa.
  • Malam 6 - seperti pahala tawaf di Baitul Makmur, setiap batu-batuan dan tanah liat beristighfar untuknya.
  • Malam 7 - seolah-olah bertemu dengan Nabi Musa dan berjuang bersamanya melawan Fir'aun dan Haman.
  • Malam 8 - diberi segala yang diterima Nabi Ibrahim AS
  • Malam 9 - seolah-olah dia beribadah yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW
  • Malam 10 - Allah SWT memberinya kabaikan dunia dan akhirat
  • Malam 11 - bakal meninggal dunia bersih dari segala dosa seperti bayi yang baru dilahirkan
  • Malam 12 - di hari qiyamat wajahnya bercahaya seperti bulan purnama
  • Malam 13 - kelak di hari qiyamat aman dari segala azab
  • Malam 14 - dibebaskan dari hisab (perhitungan), para malaikat memberikan kesaksian atas ibadah sholat Tarawihnya
  • Malam 15 - bersholawat/berdoa untuknya para malaikat penanggung aras dan kursi
  • Malam 16 - dibebaskan dari siksa neraka dan bebas pula masuk surga
  • Malam 17 - diberi pahala seperti yang diterima para Nabi
  • Malam 18 - malaikat memenggilnya; "Ya Hamba Allah" engkau dan kedua bapak ibumu telah diridhoi oleh Allah SWT
  • Malam 19 - derajatnya ditinggikan di Surga Firdaus
  • Malam 20 - diberi pahala syuhada dan shalihin
  • Malam 21 - dibangun sebuah gedung nur di surga
  • Malam 22 - kelak di hari qiyamat aman dari bencana yang menyedihkan dan menggelisahkan
  • Malam 23 - dibangun sebuah kota di surga
  • Malam 24 - doa yang dipanjatkan sebanyak 24 doa dikabulkan
  • Malam 25 - dibebaskan dari siksa kubur
  • Malam 26 - pahala baginya ditingkatkan selama 40 tahun
  • Malam 27 - melintasi shirat bagai kilat menyambar
  • Malam 28 - ditinggikan derajatnya 1000 tingkat surga
  • Malam 29 - diberi pahala sebanyak 1000 haji mabrur
  • Malam 30 - diseru Allah dengan firmanNya: "Ya Hambaku, silahkan makan buah-buahan surga, silahkan mandi air salsabil dan minumlah dari telaga kautsar. Akulah Tuhanmu dan kamu adalah hambaKu"

Subhahanallah!, sungguh besar berkah bulan ramadhan, setiap hari memiliki makna. Jika kita jalani ramadhan dengan gembira dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, Insya Allah akan meraih kemenangan sebagai orang-orang yang bertaqwa. Mari jadikan keutamaan sholat tarawih ini sebagai tips sukses ramadhan.

Memaknai (Hujan) Bulan Juni

9 Juni 2012 0 Komentar

HARI ini, saya berusia 37 tahun, angka yang terus bergerak dalam kedewasaan. Kalau usia bukan sekadar angka, sudah semestinya saya berada dalam rentan kemapanan.

hujan

"Kalau Sapardi punya kenangan khusus tentang Juni, 
saya punya ingatan khusus pada Juni."

Karena itu, saya hanya ingin memaknai pertambahan usia ini dengan membaca ulang puisi "Hujan Bulan Juni" ditulis Sapardi Djoko Damono, seorang penyair besar Indonesia.

Selama ini, publik sastra Indonesia mengenal Sapardi sebagai penyair yang mampu mengolah kata-kata sederhana menjadi lirik puisi yang sarat makna. Dan puisi Sapardi ini selalu membuka ruang tafsir yang begitu luas, simak saja:

Hujan Bulan Juni
- Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Kata dan larik puisi di atas memiliki diksi yang sederhana, bahkan sangat akrab dengan keseharian kita. Namun, kesederhanaan kata-kata ini tidak sekedar dirangkai menjadi larik-larik yang sangat indah, kata-kata tersebut juga diberi ruh.

Dan puisi ini membawa pembacanya masuk ke dalam suasana tertentu, 'hujan' tidaklah sekedar butir air yang jatuh, ‘hujan’ diberi jiwa dengan sifat tabah, bijak dan arif.

Seperti juga saya yang terbawa suasana bulan juni yang penuh khidmat, karena di bulan juni tahun ini, ada begitu banyak 'hujan' yang diturunkanNya untuk saya dan keluarga. Diantaranya menampati rumah baru dan menanti kelahiran putri kedua, 'hujan' yang senantiasa mengajak saya menjadi tabah, bijak dan arif.

Nah, jika ulang tahun dianggap sebagai momentum untuk menata dan memantapkan kembali rencana hidup di masa depan dan momen untuk mempersiapkan dan memotivasi diri menjadi pribadi yang lebih baik, maka bulan juni ini mengajak saya untuk selalu mengucap syukur. Alhamdulillah! | *

Foto Kuburan Karebosi di Jurnal IDE Jepang

10 Mei 2012 0 Komentar

Foto Kuburan Karebosi di Jurnal IDE JepangFOTO saya tentang kuburan yang berada di tengah lapangan Karebosi Makassar terbit di jurnal bulanan Ajiken World Trends (Japanese title: Ajiken Warudo Torendo) milik Institute of Developing Economies (IDE) Japan External Trade Organization (JETRO) edisi nomor 141 bulan Juni tahun 2007.

IDE adalah sebuah lembaga penelitian yang berafiliasi dengan JETRO milik pemerintah Jepang, bertujuan untuk memberikan kontribusi intelektual kepada dunia sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan pengembangan daerah.

IDE mengumpulkan pengetahuan lokal yang didasarkan pada kekhasan wilayah dan menyebarkan pemahaman yang lebih baik dari daerah-daerah baik di dalam negeri dan luar negeri. Kegiatannya memberikan landasan intelektual untuk memfasilitasi kerjasama antara Jepang dan masyarakat internasional untuk mengatasi isu-isu pembangunan.

Dalam jurnal Ajiken World Trends (versi digitalnya: http://www.ide.go.jp/Japanese/Publish/Periodicals/W_trend/200706.html) itu, foto dan ulasan tentang kuburan Karebosi ini terdapat dalam halaman 37-40 (versi digitalnya: http://www.ide.go.jp/Japanese/Publish/Periodicals/W_trend/pdf/wt_sulawesi0706.pdf).

Tiga foto saya itu merupakan pelengkap dari artikel berjudul; Mitos: Tujuh Penyelamat dari Karebosi, berikut penggalannya:

Konon menurut cerita, Gowa di abad ke-10 dilanda keadaan kacau balau. Gowa bagai sebuah rimba tak bertuan. Orang-orang saling beradu kekuatan. Setiap orang ingin membuktikan bahwa, dirinyalah yang terhebat. Dan akhirnya yang lemah tersingkir dari kehidupan.

Suatu hari di kala itu, Gowa dihantam hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Peristiwa itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Karebosi yang dulu merupakan hamparan luas nan kering lalu digenangi air.

Lantas sekitar ratusan mata rakyat Gowa saat itu tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.

Tak ada yang tahu asal muasal ketujuh orang itu. Namun, rakyat Gowa saat itu percaya kalau mereka adalah tomanurung (semacam dewa dalam mitologi Bugis Makassar) yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi atau Tuan yang Membawa Hujan, pun menginspirasi rakyat Gowa saat itu untuk memberi nama hamparan yang kemudian mereka jadikan sebagai sawah kerajaan itu.

Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan. VOC kemudian mengubah nama itu jadi Koningsplein. Setelah penjajah Belanda menyerah, nama itu lantas berubah lagi jadi Karebosi seperti yang dikenal banyak orang dewasa ini.

Kurang lebih lima abad kemudian, di bawah kepemimpinan Batara atau Raja Gowa ke-7, tujuh gundukan tanah itu dihormati sebagai tempat berpijak pertama kali tujuh tokoh kharismatik tersebut. Lantas beberapa orang membentuk tujuh gundukan itu menyerupai kuburan dengan cara tiap gundukan diberi batu sebanyak tujuh buah. Cara ini sering dilakukan orang-orang di jaman dahulu untuk menandai sebuah kuburan.

Seiring berjalannya waktu, berziarah ke tujuh kuburan itu dianggap sebagai salah satu warisan tradisi penghormatan masyarakat dan penguasa setempat kepada tujuh tokoh yang diperkirakan turun dari langit tersebut. Pada saat H.M. Daeng Patompo menjabat sebagai Wali Kota Makassar pada 1965-1978, tujuh kuburan itu sempat ditutup. Namun beberapa orang yang percaya akan mitos ketujuh kuburan itu memugarnya kembali.

Artikel Mitos: Tujuh Penyelamat dari Karebosi ini ditulis oleh Nilam Indahsari dan awalnya dipublikasikan pada blog jurnalisme warga Panyingkul.com, Agustus 2006: http://www.panyingkul.com/view.php?id=25. | *

Menemukan Dua Puisi dalam Dua Blog

25 April 2012 0 Komentar

Dua Puisi dalam Dua BlogPUISI-puisi saya ternyata telah terpublikasi secara meluas, siang ini saya menemukan dua diantaranya pada dua blog berbeda.

Puisi pertama berjudul; "Rindu, Gelisah, Dendam", puisi ini saya tulis sekitar tahun 2002 dan terpublikasi pertamakali dalam Jurnal Puisi edisi nomor 9 - September 2002.

Jurnal Puisi merupakan media berkala yang diterbitkan oleh Yayasan Puisi bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Tera dan Yayasan Bentang Budaya.

Selama ini, saya memang mencari terbitan Jurnal Puisi 9/9/02 ini, sebab jurnal milik saya hilang dipinjam teman. Beruntung, saya menemukan puisi ini di blog Hanjakata, blog sederhana yang mempublikasi puisi-puisi karya penyair Indonesia, simak saja:

Rindu, Gelisah, Dendam
-Ilham Halimsyah

Kalau pagi mulai merambat di sela dedaunan
dan burung gereja menisik sayap di sudut rumah
jangan memaki cermin
sebab aku pun tahu engkau menyimpan rindu

Kalau siang mulai mengirim gerah di sela jendela
dan matahari membakar ubun-ubun
jangan mencaci cuaca
sebab aku pun tahu engkau menyimpan gelisah

Kalau malam mulai merayap di sela mega
dan senja sebentar lagi berganti kelam
tak usah kirim pesan
sebab aku pun tahu engkau menyimpan dendam


Puisi kedua adalah puisi berjudul "Enigma", puisi ini saya tulis sekitar tahun 2001 dan terpublikasi pertamakali di halaman sastra Bentara Harian Kompas pada tahun yang sama.

Puisi ini kemudian ikut dibukukan dalam kumpulan puisi dan esai "Hijau Kelon & Puisi 2002" dengan penyunting Sutardji Calzoum Bachri dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas, Jakarta (2002).

Selain dalam Bentara Harian Kompas dan "Hijau Kelon & Puisi 2002", saya juga menemukan puisi ini terpublikasi di blog Republik Rakyat Bulak, simak yuk:

Enigma
-Ilham Halimsyah

begitu lama bunga berguguran
membuai musim yang tak henti mengadu
pada laut pada gunung pada langit

barangkali kita telah lama saling mencaci
sehingga lupa warna pelangi

tak ada garis dan lengkung
tak ada wangi dan aroma
tak ada kata dan suara
semua dalam belenggu
kedunguan kita sendiri-sendiri

masih saja engkau menahan rintih di puncak pinus


Semoga kehadiran dua puisi saya ini akan memperkaya khazanah sastra Indonesia. | *

Membaca Lagi Puisi "Surat dari Ibu"

22 April 2012 0 Komentar

KEMARIN malam, Sabtu (21 April), saya memenuhi undangan teman-teman Masyarakat Seni Salima Maros menghadiri pentas seni yang mereka gelar. Acara ini berlangsung di kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Yayasan Perguruan Islam Maros (YAPIM).

puisi

Dalam kesempatan ini, saya pun diminta ikut baca-baca puisi, padahal sudah agak lama saya tak baca puisi. Meski aktifitas baca puisi sudah saya lakukan sejak berusia 10 tahun. Kala itu, saya kerap kali menjadi utusan sekolah bahkan daerah dalam lomba baca puisi untuk siswa SD. Dari kegemaran baca puisi itu sejak kecil, saat mahasiswa saya jadi rutin menulis puisi.

Sejumlah puisi saya pun terpublikasi di banyak media juga terbitan berkala. Beberapa puisi saya bahkan dibukukan, diantaranya dalam buku Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Jurnal Puisi (Nomor 9, 2002), Sajak Dengan Huruf Tak Cukup (Inninawa, Makassar, 2004) dan Aceh Dukaku! (Gora Pustaka, Makassar, 2005).

Dalam dialog dan apresiasi seni malam itu di hadapan sejumlah penyair dan seniman Maros, saya memilih membacakan puisi berjudul Surat Dari Ibu karya Asrul Sani. Bagi saya, puisi ini menyimpan kisah tersendiri. Dulu, saat mengikuti lomba baca puisi, puisi inilah yang paling sering saya bacakan dan menjadikan saya menjuarai banyak lomba baca puisi.

Membaca puisi ini seperti mengelana kembali ke masa kecil. Malam itu, saya pun berupaya membacanya dan mendeklamasikannya dengan intonasi kalimat dan karakter suara yang tepat.

Surat Dari Ibu
karya Asrul Sani

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

Saya mengaja memilih Membaca Lagi Puisi Surat dari Ibu malam itu, selain untuk memperingati Hari Kartini dan mengenang perjuangannya, puisi ini juga saya persembahkan untuk para ibu. | **

Manfaat dan Jenis Kelamin Blog

18 April 2012 3 Komentar

jenis kelamin blogDISKUSI menarik terjadi siang ini di grup Komunitas Blogger Maros di website jejaring sosial Facebook. Diskusi ini diawali dari pertanyaan yang saya ajukan; apa manfaat ngeblog bagi kamu?

Pertanyaan ini memang sengaja saya ajukan untuk mengetahui manfaat apa yang diperolah para pegiat blog dari aktivitasnya itu. Mengingat blogging saat ini mulai diminati kaum muda sejalan kemudahan akses internet.

Member grup ini, Gempur Abdul Ghofur, blogger asal Surabaya penggagas Blogger Nusantara, mengemukakan 6 manfaat blog, yakni;
  1. Merekam dan mendokumentasikan pikiran.
  2. Memperluas wawasan keilmuan dengan saling berbagi pengetahuan.
  3. Menggugah kesadaran budaya dari pola komunikasi yang terbentuk melalui blog.
  4. Memacu adrenalin untuk terus menulis dan terus melanggengkan tradisi berbagi.
  5. Membangun dan mengukuhkan sebuah "image" pribadi (personal branding), disengaja atau tidak disengaja, dari pola dan frekuensi tulisan yang dilahirkan.
  6. Menjadi ladang penghasilan baik secara langsung maupun tidak langsung, baik cepat maupun lambat.
Pendapat Gempur, pemilik blog aghofur.com ini tentu merupakan manfaat blog secara ideal. Jawaban itu kemudian ditanggapi member lainnya, Uak Sena, dengan mengemukakan kalau blog dapat mendukung pekerjaan di dunia nyata. Pendapat Uak ini memang sejalan dengan profesinya, dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Maros.

Bahkan untuk berkomunikasi dengan para mahasiswanya, Uak menggunakan website elearningpendidikan.com yang dikelolanya sendiri sebagai alat bantu pembelajaran dan pengajaran bermodel distance learning atau pembelajaran jarak jauh. Uak Sena juga mengemukakan kalau dengan ngeblog, kita bisa belajar dari siapa saja dari belahan dunia mana pun.

Jawaban itu sejalan dengan pendapat Isal (isalblog.com) yang mengatakan kalau aktivitas blogging membuatnya mendapat banyak teman, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Manji Lala juga mengemukakan kalau saat ini tujuannya "bercuap-cuap" lewat blognya gizimu.com untuk berbagi informasi gizi kepada masayarakat, karena sesak melihat maraknya informasi gizi yang menyesatkan yang lebih berorientasi produk. Sehingga dapat disimpulkan kalau selain menjadi sarana komunikasi, blogging juga menjadi wadah berbagi informasi.

Jawaban Abdhi Griffindors, lain lagi, siswa sekolah menengah atas ini menilai, selain sebagai sarana komunikasi dan wadah berbagi informasi, blog membantunya mengembangkan kreatifitas, melatih diri bersikap sportif dan sebagai sarana untuk mengambangkan sikap pesahabatan, persaudaran dan kesetaraan gender.

Saya tiba-tiba tertarik dengan pernyataan kesetaraan gender itu, salah satu alasan Abdhi (cybercnesoftware.com) ini mengemukakan hal itu karena blogger tidak melihat jenis kelamin, laki-laki atau perempuaan, tua atau muda, semuanya punya kesempatan untuk berinteraksi dalam dunia blogging.

Saya kemudian menanggapinya dengan mengajukan pertanyaan; sebenarnya yang bernuansa gender itu konten atau pengelola blognya, sebab ada blog dengan konten khusus wanita, malah dikelola oleh pria.

Pertanyaan ini ditanggapi Gempur dengan memberikan ilustrasi; blog yang bertema atau berisi topik seputar wanita dan kewanitaan tapi dikelola oleh pria, lantas apa kelaminnya?

Gempur pun memberi entry poin, blog tersebut, blog untuk siapa saja utamanya perempuan, meski pengelolanya laki-laki, yang terpenting, Bias Gender dan segala turunan efeknya yang berlaku secara sosial (offline) tidak perlu ada dan memang harus tiada pada dunia online.

Justru Bias Gender dalam dunia online ada pada konten pornografi dan pornoaksi, hal itu jelas melecehkan dan merendahkan perempuan secara umum, karena perempuan seringkali sebagai objek penderita dan subyek masalah, kecuali beberapa pandangan berbeda yang justru menganggap itu sebagai sebuah kebebasan yang meninggikan derajat perempuan.

Diskusi seputar manfaat ngeblog dan jenis kelamin blog ini belum berakhir, karena menyisakan dua pertanyaan; dampak blogging pada blogger perempuan? dan dampak blogging pada perempuan bukan blogger? Jawaban pertanyaan ini akan saya paparkan nanti setelah didiskusikan. Happy blogging!

Berkat Jasa "Bocah Tua Nakal"

6 April 2012 0 Komentar

KOMPUTER merupakan salah satu perangkat utama dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Betapa tidak, dengan perangkat elektronik ini, saya dapat menyelesaikan tugas pokok dan fungsi kerja kehumasan pada Bagian Humas dan Protokol Pemkab Maros, terutama dalam menulis rilis berita.

komputer tua

Beruntung, saya sudah mengenal komputer sejak sekitar tahun 1996, saat itu sebuah personal computer (PC) berprosesor Intel 80286 atau populer disebut 286 menghuni sebuah kamar sederhana di Pondok Hasanuddin, kawasan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Tamalanrea, Makassar. Komputer itu milik Ishaq Rahman, senior saya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas. Kamar ini kemudian menjadi tempat berkumpul saya dan beberapa teman kuliah.

Prosesor Intel 80286 adalah sebuah mikroprosesor 16-bit yang dibuat oleh Intel Corporation menggunakan mikroarsitektur Intel x86. Kecepatan pemrosesannya hanya 6 MHz atau 8 MHz. Prosesor jenis ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982 dan digunakan pada komputer IBM PC/AT.

Kami menyebut komputer itu "bocah tua nakal" karena tipenya terbilang kuno, juga kadang ngadat. Kuno karena saat itu sudah ada komputer berprosessor 386 bahkan 486. Meski tua, jasanya tak sedikit, paling tidak komputer ini telah membantu kami mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan surat-menyurat organisasi kampus, menulis artikel, mengolah data, hingga sesekali menulis puisi.

Awalnya, saya memakai komputer ini hanya untuk bermain PacMan, game populer saat itu, sambil sesekali belajar mengetik tugas-tugas. Karena menyadari kemampuan saya menggunakan komputer ini tak semahir Bang Icaq, sebutan kami untuk pemilik "bocah tua nakal", maka saat menggunakan program pengolah kata Wordstar 4.0 (cikal bakal MicrosoftWord) di komputer ini, saya mesti dibekali dengan catatan berisi kode perintah khusus.

Kode perintah itu menggunakan titik, angka dan kata, semisal; .lm4 = left margin 4; .rm56 = right margin 56 dan seterusnya untuk mengatur posisi margin kiri dan margin kanan tata letak kalimat dalam halaman ketikan.

Komputer pada masa itu memang belum secanggih sekarang, jenis media penyimpan datanya masih sederhana, menggunakan Floppy Disk 5" atau populer disebut disket. Sesuai namanya, disket ini berukuran fisik 5 inci persegi dengan daya tampung terbesar hanya 1,2 megabites (MB). Repotnya, jika disket ini lembab apalagi basah maka data tak dapat terbaca dan bisa saja hilang, juga rawan terlipat.

Kemudian, dengan bekal pengetahuan dasar komputer yang saya dapat dari kamar Bang Icaq, sekitar tahun 1997-1998 saya mengikuti kursus di sebuah lembaga pendidikan komputer yang dikelola oleh Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesai (GKP-RI) Sulawesi Selatan (Sulsel). Namun tak lama saya jalani, selain karena bosan menjalani materi kelas, aktifitas kemahasiswaan pun mulai padat, juga karena saya merasa lebih nyaman belajar bersama si "bocah tua nakal".

Sekitar tahun 1998-1999, "bocah tua nakal" hijrah dari kamar Bang Icaq, kami pun mulai menggunakan komputer dengan operating system (OS) berbasis Windows, menggunakan Windows 98 atau Windows Millennium Edition (Me)). Pada masa ini, usaha jasa rental komputer juga mulai marak di kawasan kampus Unhas Tamalanrea.

Dengan komputer berbasis Windows ini, selain mengetik, saya juga mulai belajar mengolah gambar melalui program Photoshop versi 5.5, perangkat lunak editor gambar buatan Adobe Systems yang dikhususkan untuk pengeditan image dan pembuatan efek gambar untuk mendukung hobby fotografi yang sudah saya lakoni. Juga mulai belajar menggunakan program grafis CorelDraw versi 8.

Dengan komputer ini pula, saya sesekali membuat laman website atau webpage sederhana dengan Microsoft FrontPage, program aplikasi editor HTML untuk kemudian diuload ke internet melalui website GeoCities. Juga bermain Age of Empires, serangkaian permainan strategi berlatar sejarah di Eropa, Afrika dan Asia besutan Microsoft Studios.

Berkat jasa si "bocah tua nakal", saya terbebas dari penyakit "TBC". Bahkan setiap hari, sebuah komputer jinjing jenis notebook, juga sebuah kamera SLR, selalu menemani saya beraktifitas.

Kawan-kawan sekamar saya pun mahir menggunakan teknologi, sebut saja; Mattewakkan yang kini Komisioner Komisi Informasi Propinsi Sulawesi Selatan, Arief Wicaksono yang kini peneliti dan pengajar salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar, Andi Zulfikar dan Adi Adnan yang memilih berwiraswasta di Jakarta. Serta sang pemilik kamar, Ishaq Rahman kini sedang melanjutkan studi doktoral di Jepang. | *gambar hanya ilustrasi, bukan gambar "bocah tua nakal"

Artikel berjudul; Paham Komputer Berkat Jasa "Bocah Tua Nakal" ini adalah bentuk partisipasi dalam penelitian sosial budaya Makassar menggunakan ‘kendaraan’ komputer yang dilaksanakan oleh Komunitas Blogger Makassar dan Komunitas Tanahindie Makassar.

Janur Kuning dan Serangan Umum 1 Maret

1 Maret 2012 0 Komentar

janur kuning serangan umumSORAK-sorak bergembira bergembira semua. Sudah bebas negeri kita, Indonesia merdeka. Indonesia merdeka, Republik Indonesia. Itulah hak milik kita untuk slama-lamanya.

Masih ingat lagu ini? Lagu berjudul "Indonesia Tetap Merdeka" karangan C. Simanjutak ini menjadi pembuka film berjudul “Janur Kuning”. Film perjuangan Indonesia produksi 1979 yang disutradarai oleh Alam Rengga Surawidjaja.

Janur Kuning dibuat untuk mengenang perjuangan merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Film ini dibintangi oleh Deddy Sutomo, Dicky Zulkarnaen, Kaharuddin Syah, Dian Anggrianie D, Pong Hardjatmo, juga Amak Baldjun. Tokoh-tokoh nyata yang ditampilkan dalam film ini diantaranya Jenderal Sudirman, Soeharto, dan Amir Machmud. Janur kuning adalah lambang yang dikenakan di lengan para pejuang sebagai tanda perjuangan.

Dalam Janur Kuning diceritakan kalau Jenderal Sudirman (diperankan Deddy Soetomo) meski dalam kondisi sakit dan ditandu masih memimpin perang gerilya. Dalam kondisi kesehatan yang lemah, Jenderal Sudirman tidak bisa tenang, ia tetap berjuang. Dalam benaknya, lebih baik mati di medan perang daripada mati di tempat tidur.

Meski pada awalnya Jenderal Sudirman ragu melanjutkan perjalanannya ke Jogya karena kuatir perjanjian Roem Royen akan sama dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya. Namun Letnan Kolonel Soeharto (diperankan Kaharuddin Syah) meyakinkannya untuk memasuki kota Jogya karena Belanda telah kalah perang.

Serangan Umum 1 Maret dan Peran Soeharto
Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dengan tujuan utama mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia Internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.

Sekitar satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1949, TNI mulai menyusun strategi untuk melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yang dimulai dengan memutuskan jaringan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.

Menghadapi hal itu, Belanda terpaksa memperbanyak pos-pos penjagaan di sepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah diduduki. Hal ini berarti kekuatan pasukan Belanda tersebar pada pos-pos kecil di seluruh daerah yang kini merupakan medan gerilya. Dalam keadaaan pasukan Belanda yang sudah terpencar-pencar, mulailah TNI melakukan serangan terhadap Belanda.

Puncak serangan dilakukan dengan serangan umum terhadap kota Yogyakarta (ibu kota negara kala itu) pada tanggal 1 Maret 1949 dipimpin Komandan Brigade 10 Wehrkreise III, Letnan Kolonel Soeharto. Serangan ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Serangan dimulai pagi hari sekitar pukul 06.00, saat sirene dibunyikan dan serangan dilancarkan ke segala penjuru kota Yogyakarta. Serangan ini menimbulkan pertempuran sengit, pasukan Belanda yang dipimpin Kolonel Van Langen kocar-kacir. Pasukan Indonesia terus maju dan memukul jantung pertahanan Belanda. Akhirnya kota Yogyakarta kembali dikuasai TNI selama 6 jam, hingga pukul 12.00 siang.

Serangan Umum 1 Maret Bukan Gagasan Soeharto
Meski Soeharto memiliki peran dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, namun banyak pengamat berpendapat kalau serangan itu bukanlah gagasan Soeharto. Menurut DR. Anhar Gonggong, inisiatif penyerangan ini bukan berasal dari komandan Brigade akan tetapi berasal dari pejabat yang lebih tinggi.

Sumber lain menyebutkan kalau gagasan serangan ini adalah inisiatif Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai pucuk pimpinan militer tertinggi saat itu, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan dukungan terhadap rencana ini.

Keterangan lain menyebutkan kalau penggagas serangan umum ini adalah dr. Wiliater Hutagalung yang sejak Septdember 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial yang bertugas membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III.

Hutagalung menegaskan perlunya melakukan serangan spektakuler terhadap isolasi Belanda atas ibukota Yogyakarta untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada, ada pemerintahan, ada organisasi TNI dan tentaranya.

Sementara Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengakui kalau dirinyalah yang semula membicarakan gagasan itu dengan Jenderal Sudirman dan minta izin mendapatkan kontak langsung dengan Soeharto untuk melaksanakan gagasan saya. Hal itu terungkap dalam buku buku Momoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno dan buku biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX: Takhta untuk Rakyat (1982).

Memang dalam buku-buku sejarah Indonesia, pengambil inisiatif Serangan Umum 1 Maret 1949 ini adalah Soeharto, namun setelah mantan Presiden RI ini wafat, polemik kalau pengambil keputusan serangan ini sebenarnya bukanlah Jenderal Besar ini mulai bermunculan.

Kembali ke film Janur Kuning, rasanya sulit menonton film ini lagi di televisi. Terlebih televisi saat ini lebih banyak menampilkan kasus masalah-masalah pelik yang dihadapi bangsa ini. Televisi juga makin komersial sehingga tak lagi menyisakan waktu untuk mengenang sejarah.

Seperti juga film bertema sejarah dan berlatar kepemimpinan Orde Baru lainnya, film Janur Kuning akhirnya hanya dapat dikenang oleh generasi yang dulu rutin menontonnya menjelang tanggal 1 Maret. Sorak-sorak bergembira bergembira semua. Sudah bebas negeri kita, Indonesia merdeka...

Membincangkan Bantimurung Sebagai Objek Wisata Terbaik

16 Januari 2012 2 Komentar

ENTAH mengapa, saya tiba-tiba ingin mengulas kembali tentang "Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan."

bantimurung

Sampai hari ini saya tetap percaya kalau kawasan wisata alam andalan Kabupaten Maros ini adalah yang terbaik di Sulawesi Selatan (Sulsel). Meski saya juga menyadari kalau tidak semua pihak sepakat dengan pernyataan ini. Namun setuju atau tidak, Bantimurung memang menjadi salah satu daerah tujuan wisata andalan dalam program Visit South Sulawesi 2012.

Bantimurung menjadi objek wisata yang paling mudah dijangkau, dibandingkan objek wisata lain di luar Makassar (ibukota Propinsi Sulsel). Jaraknya hanya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Makassar, sekitar 20 kilometer dari Bandara Sultan Hasanuddin (yang juga terletak di Kabupaten Maros) atau sekitar 10 kilometer dari kota Turikale (ibukota Kabupaten Maros).

Dengan daya tarik utama air terjun dan panorama alam yang menakjubkan, Bantimurung sudah lama dikenal. Naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallacea, pernah tinggal meneliti kupu-kupu langka di kawasan ini pada sekitar tahun 1856-1857 dan menyebut Bantimurung "The Kingdom of Butterfly".

Bukti lain adalah adanya lukisan cat air JC Rappard De berjudul Waterval bij Maros yang dibuat sekitar tahun 1883-1889. Meski Bantimurung sebagai wilayah baru ditemukan pada sekitar tahun 1923, saat Karaeng Simbang, Patahoeddin Daeng Paroempa menemukan area ini.

Meski sebenarnya nama Bantimurung sudah melekat dibenak banyak orang. Bagi warga Maros, Bantimurung bukan sekadar nama sebuah tempat wisata, Bantimurung juga adalah nama sebuah wilayah kecamatan, bahkan Bantimurung adalah sebuah identitas bagi mereka yang lahir, bermukim dan menjalani hidupnya di wilayah ini.

Hal lain yang membuat saya tetap percaya kalau kawasan wisata alam ini tetap menjadi 'best tourism object' bukan lantaran banyaknya wisatawan yang berkunjung, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Tetapi karena menjadi perhatian sejumlah pejabat negera. Sebut saja Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono yang berkunjung pada 2006 silam.

Bantimurung juga menjadi pusat kegiatan, hampir di setiap akhir pekan ada saja perusahaan, organisasi atau komunitas yang menggelar kegiatannya di sini, semisal gathering, rapat kerja atau lainnya. Bahkan bagi yang senang memotret, kawasan Bantimurung menjadi objek foto yang banyak diminati dan kadangkala menjadi pusat event yang menarik.

Bantimurung juga menjadi lokasi shooting film, sinetron, atau acara televisi lainnya, sebut saja film televisi berjudul; Badik Titipan Ayah.

Yah, Bantimurung memang objek wisata terbaik di Sulsel, ini juga terbukti dengan besarnya minat blogger mengikuti lomba penulisan blog dengan keyword: "Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan" yang digelar Komunitas Blogger Maros.

Selain Komunitas Blogger Maros, promosi bantimurung juga dilakukan oleh pengelola website Desa Wisata Samangki. Penyelenggaraan lomba dan promosi ini menjadi wujud peran serta masyarakat dalam membangun daerahnya.

Dan saya selalu bangga saat membincangkan "Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan". Ayo ke Bantimurung!

Membaca Kembali Legenda Benti Merrung

26 Desember 2011 0 Komentar

MALAM ini saya kembali berbagi cerita legenda Banti Merrung, cerita asal mula Bantimurung, kawasan wisata alam yang terkenal dengan air terjun dan kupu-kupu.

Meski cerita ini bukanlah hal baru dan sudah sering dipaparkan di sejumlah website dan blog, namun selalu menarik, terutama bagi yang belum pernah membacanya.

Saya pertamakali menulis muassal Bantimurung ini pada tahun 2006 dan dipublikasikan pertamakali di Panyingkul.com, sebuah website yang mengusung semangat jurnalisme warga dengan semboyan; Jurnalisme Orang Biasa. Tulisan ini kemudian direposting sebanyak 377 entry (berdasarkan penelusuran Google dengan kata kunci; benti merrung).

Paparan tentang sejarah Bantimurung ini dimulai sejak masa Perjanjian Bungaya I dan II (1667-1669) saat Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Belanda. Ketika itu, wilayah Kerajaan Maros diformulasikan dalam bentuk Regentschaap yang dipimpin oleh penguasa bangsawan lokal bergelar Regent (setingkat bupati).

Setelah itu, Maros berubah menjadi Distrik Adat Gemenschaap yang dipimpin oleh seorang kepala distrik yang dipilih dari bangsawan lokal dengan gelar Karaeng, Arung atau Gallarang. Kerajaan Simbang merupakan salah satu Distrik Adat Gemenschaap yang berada dalam wilayah Kerajaan Maros. Distrik ini dipimpin oleh seorang bangsawan lokal bergelar Karaeng.

Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin Daeng Paroempa menjadi Karaeng Simbang. Ia mulai mengukuhkan kehadiran kembali Kerajaan Simbang dengan melakukan penataan dan pembangunan di wilayahnya. Salah satu program yang dijalankannya ialah dengan melaksanakan pembuatan jalan melintas Kerajaan Simbang agar mobilitas dari dan ke daerah-daerah di sekitarnya menjadi lancar.

Pembuatan jalan ini, rencananya akan membelah daerah hutan belantara. Namun, suatu waktu pekerjaan tersebut terhambat akibat terdengarnya bunyi menderu dari dalam hutan yang menjadi jalur pembuatan jalan tersebut.

Saat itu, para pekerja tidak berani melanjutkan pekerjaan pembuatan jalan. Karena suara gemuruh tersebut begitu keras. Karaeng Simbang yang memimpin langsung proyek ini lalu memerintahkan seorang pegawai kerajaan untuk memeriksa ke dalam hutan belantara asal suara itu.

Usai sang pegawai kerajaan melakukan pemeriksaan lokasi, Karaeng Simbang lalu bertanya; “Aga ro merrung?” (Bahasa Bugis; suara apa itu yang bergemuruh?).
“Benti, Puang,“ (Air, Tuanku), jawab sang pegawai tadi.

"Benti", adalah Bahasa Bugis halus atau tingkat tinggi untuk air. Kosa kata seperti ini biasanya diucapkan oleh seorang hamba atau rakyat jelata ketika bertutur dengan kaum bangsawan. Mendengar laporan tersebut, Karaeng Simbang lalu berkenan melihat langsung asal sumber suara gemuruh dimaksud.

Sesampainya di tempat asal suara, Karaeng Simbang terpana dan takjub menyaksikan luapan air begitu besar merambah batu cadas yang mengalir jatuh dari atas gunung. Beliau lalu berujar; “Makessingi kapang narekko iyae onroangngnge diasengi Benti Merrung!“ (Mungkin ada baiknya jika tempat ini dinamakan air yang bergemuruh).

Berawal dari kata Bentimerrung inilah kemudian berubah bunyi menjadi Bantimurung. Penemuan air terjun tersebut membuat rencana pembuatan jalan tidak dilanjutkan. Malah, daerah di sekitar air terjun tersebut dijadikan sebagai sebuah perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang. Kampung ini dikepalai oleh seorang kepala kampung bergelar Pinati Bantimurung.

Saat ini, Bantimurung menjadi salah satu kecamatan dalam wilayah Kabupaten Maros, begitu pula Simbang. Sedangkan air terjun Bantimurung menjadi kawasan wisata alam. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter dari permukaan tanah dengan lebar 15 meter. Menggemuruh sepanjang tahun sehingga menjadikannya tempat rekreasi yang sangat populer.

Dalam mempromosikan kawasan wisata alam Bantimurung, Pemerintah Kabupaten Maros pernah membuat akronim nama Bantimurung yang mirip parodi yaitu: Banting Murung, tempat membanting kemurungan. Karena saat berwisata di Bantimurung, kemurungan pun sirna.

Adapun Karaeng Simbang wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di Belakang Masjid Pakalu (salah satu kampung dalam wilayah Kerajaan Simbang, sekarang bernama Lingkungan Pakalu dalam wilayah Kecamatan Bantimurung), yang dibangun dengan dana swadaya di atas tanah pribadinya. Karena itulah ia bergelar Matinroe ri Masigi’na (yang dimakamkan di mesjidnya). Nama lengkapnya, Patahoeddin Daeng Paroempa Sultan Iskandar Muda Matinroe ri Masigi’na.

Legenda Benti Merrung ini adalah nukilan cerita dari naskah novel sejarah Maros yang ditulis oleh pemerhati budaya Maros, Fahry Makkasau yang sedang saya edit dan usahakan penerbitannya kala itu. Sampai sekarang, naskah itu masih saya simpan dan masih dalam proses dibukukan.

Legenda ini saya sajikan kembali sebagai penguatan wacana Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan. | sumber gambar: Waterval bij Maros, litograf setelah cat air asli oleh J.C. Rappard De, 1883-1889, Tropenmuseum

Salah Kaprah Tentang Kota Turikale

9 Desember 2011 2 Komentar

HARI ini, saya menerima beberapa pesan, pesan itu disampaikan lewat private message di Facebook dan mention di Twitter. Pesan itu berisi pertanyaan; benarkah nama Maros berubah menjadi Turikale?

Pertanyaan ini adalah respon terhadap berita yang dimuat pada surat kabar harian lokal hari ini tentang tulisan selamat datang di gerbang masuk Kota Maros yang berubah.

Di gerbang yang terletak sekitar tiga kilometer sebelum kota Maros itu, sekarang memang tertera tulisan; "Selamat Datang di Kota Turikale" yang sebelumnya berbunyi; "Selamat Datang di Kota Maros."

Tulisan itu sontak menimbulkan salah kaprah, banyak orang mengira nama Kabupaten Maros telah berubah menjadi Kota Turikale. Beberapa warga bahkan mengganggap perubahan nama ini tak sesuai aturan dan tidak pernah disosialisasikan.

Mencermati respon itu, saya pun menuliskan tanggapan; nama Kabupaten Maros tidak berubah, yang baru ditetapkan adalah nama Turikale sebagai ibukota Kabupaten Maros. Terkait sosialisasi penetapan Turikale sebagai nama ibukota Kabupaten Maros, beberapa waktu lalu, Pemkab Maros telah menyampaikannya secara resmi di website maroskab.go.id;

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros menetapkan kecamatan Turikale sebagai ibukota Kabupaten Maros. Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) nomor 10 tahun 2011 tentang Penetapan Turikale sebagai Ibukota Kabupaten Maros.

Dipilihnya Turikale sebagai ibukota Kabupaten Maros karena saat ini pusat kegiatan pemerintahan dan pelayanan berada di Kecamatan Turikale. Selain itu laju pembangunan dan ekonomi di Turikale makin pesat sehingga sangat layak untuk dijadikan sebagai ibukota Kabupaten.


Dari aspek kesejarahan Turikale adalah salah satu eks distrik tertua di Kabupaten Maros, sehingga diharapkan dengan penetapan ini akselerasi pembangunan dapat terpacu dengan program-program yang telah dicanangkan Pemkab Maros.


Karenanya, saya pun sepakat jika kalimat yang tertera di gapura tersebut segara dibenahi dengan menambahkan kalimat "Ibukota Kabupaten Maros" di bawah kalimat "Selamat Datang di Kota Turikale" itu, untuk mengakhiri salah kaprah ini.

Blogger Maros Sosialisasi Internet

26 November 2011 2 Komentar

PEKAN lalu, Sabtu (19/11), kawan kawan dari Komunitas Blogger Maros melakukan sosialisasi pemanfaatan internet ke sekolah.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mengajak siswa untuk memanfaatkan internet secara positif sebagai langkah untuk menghindari dampak negatif teknologi informasi ini. Sosialisasi ini digelar pertama di SMU 6 Maros.

Dalam sosialisasi ini disampaikan materi bagaimana mencari informasi yang dibutuhkan di internet, menggunakan informasi di internet untuk kebutuhan akademik (sekolah), serta bagaimana memanfaatkan internet sebagai salah satu sumber informasi dalam mendukung siswa belajar.

Selain pemahaman internet secara umum, acara ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan blog yang selama ini dikenal aplikasi yang menyerupai tulisan-tulisan dan gambar pada sebuah halaman web di internet. Kehadiran blog sebagai salah satu media informasi di internet dapat berperan untuk mempublikasikan potensi daerah.

Sejatinya, blog dapat digunakan sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi pariwisata dan potensi daerah lainnya, termasuk mensosialisasikan program pemerintah daerah. Mengelola blog dengan baik akan menjadi bagian dukungan masyarakat dan generasi muda penggiat blog dalam mewujudkan Maros cybercity. | **

 
lihat versi baru dari blog ini: IHSYAH blogwork | lihat juga BLOGSPOTISME