Tampilkan postingan dengan label Publikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Publikasi. Tampilkan semua postingan

Saya Pindah Blog, Setelah 19 Tahun Ngeblog!

5 November 2025 0 Komentar


Saya pindah blog! Alasannya adalah saya ingin punya brand baru yang lebih asik didengar dari nama blog ini IHS center. Blog baru itu bernama IHSYAH blogwork. Tetap berbasis Blogger.

Saya masih mengulas topik blogging di IHSYAH blogwork, bedanya dengan IHS center, konten akan lebih fresh dan kekinian; sesuai topik dan issu yang digemari dan tren saat ini. 

Saya membuat blog IHS center ini pada tahun 2006, kala itu kalangan anak-anak muda di Makassar dan sekitarnya, sedang demam web termasuk membuat dan mengelola blog pribadi. Postingan pertama berjudul "Saya Ngeblog, Maka Saya Ada" - https://ihscenter.blogspot.com/2006/11/saya-ngeblog-maka-saya-ada.html, yang dipublikasikan pada 5 November 2006. Tepat 19 tahun. 

Hingga saat ini, blog IHS center menerbitkan 275 postingan atau konten. Memang bukan jumlah yang banyak jika melihat usia blog. Beberapa konten diposting dengan jeda waktu yang cukup lama. Sebab aktivitas di dunia nyata kadangkala tak menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan dashboard blogger. 

Saya sebenarnya akan menghapus blog IHS center ini tetapi beberapa teman menyarankan untuk tidak menghapusnya. Biarlah blog legend ini menjadi bukti perjalanan saya dalam dunia persilatan, eh dunia blog-ngeblog. Saat belum banyak orang menggeluti hal ini terutama di Makassar, Maros dan Sulawesi Selatan.

Tampilan IHSYAH blogwork saya buat sama dengan blog IHS center ini, sebagai ciri blog. Apalagi tampilan ini merupakan hasil utak-atik template. 

Meski bukan blog yang benar-benar baru, sebab telah dibuat sejak tahun 2020, tepatnya pada 24 Juni 2020, dengan postingan pertama, "Berhenti Gunakan Kata 'Hunting' Foto?" - https://blogihsyah.blogspot.com/2020/06/berhenti-gunakan-kata-hunting-foto.html. Namun di blog IHSYAH blogwork, saya tetap akan berbagi berita, juga cerita.

Kunjungi IHSYAH blogwork - https://blogihsyah.blogspot.com. Happy bloging! **

Jalan Panjang Pers Nasional: Jangan Gagap Teknologi

9 Februari 2017 0 Komentar




Setiap 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Hal ini ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Keputusan yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985. 

Kepres itu juga menyebutkan bahwa Pers Nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Sebelum Kepres itu lahir, sebenarnya HPN telah digodok sebagai salah satu butir keputusan Kongres ke-28 Persatuan Wartawan (PWI) di Padang, Sumatera Barat, pada 1978. Kesepakatan tersebut, tak terlepas dari kehendak insan pers untuk menetapkan satu hari bersejarah untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Kemudian, dalam sidang ke-21 Dewan Pers di Bandung pada 19 Februari 1981, kehendak tersebut disetujui oleh Dewan Pers untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah sekaligus menetapkan penyelenggaraannya.

Lahirnya HPN tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah tentang peran penting wartawan sebagai aktivis pers dan aktivis politik. Sebagai aktivis pers, wartawan bertugas dalam pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional serta sebagai aktivis politik yang menyulut perlawanan rakyat terhadap kemerdekaan.

Peran ganda tersebut tetap dilakukan wartawan hingga setelah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Bahkan, pers kemudian mempunyai peran strategis dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Pada 1946, aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia kemudian menemukan wadah dan wahana yang berlingkup nasional pada 9 Februari 1946 dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kelahiran PWI di tengah situasi perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan, melambangkan kebersamaan dan kesatuan wartawan Indonesia dalam tekad dan semangat patriotiknya untuk membela kedaulatan, kehormatan, serta integritas bangsa dan negara.

Kehadiran PWI diharapkan mampu menjadi tombak perjuangan nasional menentang kembalinya konolialisme dan dalam menggagalkan negara-negara boneka yang hendak meruntuhkan Republik Indonesia.

Selanjutnya, tokoh-tokoh surat kabar dan tokoh-tokoh pers nasional berkumpul mengikrarkan berdirinya Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) pada 6 Juni 1946 di Yogyakarta. SPS didirikan atas kesadaran bahwa sejarah lahirnya surat kabar dan pers itu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya idealisme perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan.

SPS menyerukan agar barisan pers nasional perlu segera ditata dan dikelola baik dalam segi ide serta komersialnya. Hal itu mengingat bahwa pada kala itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya.

Meski sebetulnya SPS telah lahir empat bulan sebelum, yakni bersamaan dengan lahirnya PWI di Surakarta pada 9 Februari 1946. Karena kesamaan itulah, banyak orang yang kemudian menjuluki SPS dan PWI sebagai "kembar siam". Pada 9-10 Februari itu, wartawan dari seluruh Indonesia berkumpul dan bertemu. Mereka datang dari beragam kalangan wartawan, seperti pemimpin surat kabar, majalah, wartawan pejuang dan pejuang wartawan.

Setelah 26 tahun, pengalaman pers nasional dan kesulitan di bidang percetakan melahirkan Serikat Grafika Pers (SGP) pada pertengahan tahun 1960-an. Kesulitan semakin mencekik ketika kemerosotan peralatan cetak dalam negeri digempur kecanggihan teknologi mutakhir luar negeri.

Kelimpungan dengan hal itu, tergeraklah keinginan untuk meminta pemerintah ikut mengatasinya dan memperbaiki keadaan pers nasional dan berkontribusi dalam pengadaan peralatan cetak dan bahan baku pers. Hingga akhirnya, pada Januari 1968 dilayangkan nota permohonan kepada Presiden Soeharto.

Menanggapi hal itu, pemerintah mengesahkan Undang Undang penanaman modal dalam negeri yang menyediakan fasilitas keringanan pajak dan bea masuk serta dimasukkannya grafika pers dalam skala prioritas telah memacu berdirinya usaha-usaha percetakan baru. Maka berlangsunglah Seminar ke-1 Grafika Pers Nasional pada Maret 1974 di Jakarta. Kemudian, keinginan untuk membentuk wadah grafika pers SGP terwujud pada 13 April 1974.

Selain wartawan cetak, para tokoh radio siaran pun memikirkan wadah untuk mengembangkan profesionalisme penyelenggaraan radio siaran swasta dengan membentuk organisasi bersifat nasional. Maka diselenggarakan Kongres pertama Radio Siaran Swasta se Indonesia yang dihadiri 227 orang peserta, mewakili 173 stasiun radio siaran swasta dari 34 kota di 12 provinsi saat itu.

Kongres yang digelar di Balai Sidang Senayan Jakarta pada 16-17 Desember 1974 itu melahirkan organisasi Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia yang disingkat PRSSNI. Selanjutnya, pada Munas ke IV PRSSNI di Bandung tahun 1983, kata "Niaga" diganti "Nasional" sehingga menjadi Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional  Indonesia dan tetap disingkat PRSSNI.

Organisasi pers nasional pun terus berkembang, hingga lahirnya Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) yang dalam Undang Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pers ditetapkan sebagai anggota organisasi pers nasional.

Bergulirnya reformasi, melahirkan kebebasan dan keterbukaan informasi di Indonesia. Jika pada era Orde Baru, hanya PWI yang diakui sebagai satu-satunya organisasi profesi kewartawanan, maka sejak era reformasi telah muncul puluhan organisasi wartawan, seperti halnya dengan pembentukan partai-partai politik.

Diantaranya lahir Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 7 Agustus 1994 di Bogor yang dilatarbelakangi oleh penandatanganan Deklarasi Sirnagalih yang intinya menuntut dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI.

Sejak berdiri hingga saat ini, AJI memiliki kepedulian pada tiga isu utama, yakni pertama, perjuangan untuk mempertahankan kebebasan pers. Kedua, meningkatkan profesionalisme jurnalis. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan jurnalis.

Untuk menumbuhkan profesionalitas pengelolaan organisasi wartawan, Dewan Pers menganggap perlu menetapkan standar organisasi wartawan yang berlaku secara nasional. Dari puluhan organisasi wartawan yang ada, Dewan Pers menilai ternyata hanya 4-5 organisasi wartawan yang memenuhi syarat, diantaranya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Era reformasi juga melahirkan organisasi yang menghimpun para jurnalis televisi, seiring dengan perkembangan media televisi di tanah air. Ratusan jurnalis televisi berkumpul di Jakarta untuk melakukan kongres pertama dan sepakat mendirikan IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia) pada 8-9 Agustus 1998.

Kemudian di era moderen, pers berkembang dengan cepat dan melahirkan "Jurnalistik Online." Jurnalistik generasi baru ini lahir seiring dengan kemunculan media online (internet) sebagai salah satu media baru. Jurnalisme online merupakan jurnalisme generasi ketiga setelah jurnalisme cetak (media cetak seperti suratkabar dan majalah) dan jurnalisme elektronik (radio dan televisi).

Perkembangan ini menjadikan setiap wartawan masa kini "wajib" menguasi wawasan dan keterampilan online, apalagi media konvensional, --suratkabar, majalah, tabloid, radio, dan televisi-- memiliki versi online agar tiba ke pembaca dengan lebih cepat.

Maka dunia pers Indonesia jangan gagap teknologi. Pers nasional harus menerima perkembangan teknologi dengan baik dan wartawan harus paham internet. Sebab laju informasi tidak dapat dihambat dan akan terus mengalir ke ruang publik, di mana pun, kapan pun. Selamat Hari Pers Nasional. (**)


**Ditulis oleh Ilham Halim Syah. pegiat pers, tinggal di Maros. Lokasi foto di Bukit Tamangura Maros.

Memandang Pesona Karts dari Kafe Puncak Rammang Rammang Maros

8 Oktober 2016 0 Komentar


Kawasan wisata alam Rammang Rammang Maros sebagai destinasi baru pariwisata di Sulsel terus dikembangkan. Kawasan yang terletak di antara gugusan karts Maros-Pangkep tersebut kini dilengkapi dengan beragam sarana untuk memanjakan pengunjung, diantaranya kafe atau kedai makanan dan minuman.

Kehadiran kedai ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang akan merasakan nikmatnya sensasi bersantai pada bangunan kedai yang berdiri tegak di atas puncak gunung karst di Kampung Berua Rammang Rammang Maros.

Sejak dibuka beberapa pekan lalu, kafe ini mulai dipadati pengunjung yang ingin merasakan sensasi bersantai di atas pegunungan karts sambil menikmati minuman dan penganan yang disajikan. Kafe ini terletak sekira 200 meter dari permukaan laut dengan akses anak tangga menuju puncak gunung tempat kedai ini berdiri.

Pengunjung pun dapat mengabadikan moment dengan latar bentangan keindahan alam ini. Jika mengunjunginya di sore hari, pengunjung bisa sambil menunggu sunset. Meski bangunan kedai ini masih baru, namun ratusan pengunjung memadatinya setiap hari.

Bahkan di hari libur seperti Sabtu dan Minggu, pengunjung mesti antri untuk mendapatkan tepat duduk di kafe untuk memandang gugusan gunung karst dari ketinggian tentu memanjakan mata. Harga minuman dan makanan yang disajikan di kafe ini terbilang murah, hanya Rp.7000 hingga Rp.15.000 saja.

Informasi dari Maccanews.com, pemilik Kafe Puncak Rammang Rammang Maros, Hamzah menuturkan, kafe ini dibangun atas inisiatif sendiri dengan memanfaatkan lahan berbatu di atas lahan milik keluarganya yang terpisah dari bentangan gugusan gunung karst Maros-Pangkep. Tepatnya di Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.

Nuansa alam pedesaan masih sangat kental dijumpai di sini, udara segar dan suasana alami menjadikannya begitu menarik. Apalagi akses menuju ke Kampung Berua Dusun Rammang Rammang ditempuh dengan perahu menyusuri Sungai Pute.

Jika ingin mengunjungi Kafe Puncak Rammang Rammang Maros, pengunjung hanya berjalan kaki sekira lima puluh meter dari dermaga dan berjalan di pematang sawah dan tambak. (**)

Legenda Situs Kerbau dan Keindahan Bukit Tamangura Maros

14 September 2016 0 Komentar


Bukit Tamangura di Dusun Samariga Desa Baruga Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Sulawesi Selatan menyimpan keindahan tersendiri.

Dari bukit yang terletak tidak jauh dari kawasan wisata unggulan, Rammang Ramang Maros ini dapat dilihat indahnya gugusan karts dan hamparan sawah di sekitarnya, juga indahnya matahari terbenam di ufuk barat.

Bukit Tamangura mulai populer dan mulai dikunjungi warga, serta sejumlah wisatawan lokal pada akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2000. Bersantai di puncak bukit sambil menikmati pemandangan alam menjadi daya tariknya.

Ditambah keberadaan batu unik yang bentuknya menyerupai badan kerbau. Posisi batu ini berada di tepi jurang dan menempel di bukit batu tanpa bersambungan langsung dengan batu yang lainnya.

Mengunjungi Bukit Tamangura bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Diantaranya dari jalan poros Maros-Pangkep di daerah Salenrang, berbelok menuju jalan poros arah ke pabrik Semen Bosowa Maros hingga ke Dusun Samariga hingga sebuah bukit batu terlihat dari sisi kiri jalan. Kemudian berjalan kaki kurang lebih 10 hingga 15 menit menuju objek situs batu kerbau tersebut.

Masyarakat sekitar menyebut batu ini situs kerbau, karena memang dipercaya sebagai jelmaan potongan badan kerbau. Menurut cerita warga sekitar, batu ini pernah didorong dan dijatuhkan ke dasar jurang oleh oknum tidak bertanggung jawab, tetapi keesokan harinya batu itu kembali ke tempatnya semula.

Website radio Maros FM menyebut, salah satu cerita rakyat tentang situs kerbau ini adalah dulunya ada seekor kerbau yang akan disembelih dalam sebuah acara adat. Namun sang pemilik acara terlalu sombong dan menantang penduduk yang bisa menyembelih kerbaunya, maka akan mendapatkan hadiah dari yang empunya acara.

Beberapa penduduk mencoba, tetapi tidak satupun yang berhasil. Jangankan menyembelih, melukai sedikitpun kulit kerbau itu tidak ada yang berhasil. Kemudian muncullah seorang sakti yang akhirnya berhasil menyembelih kerbau itu.

Kerbau yang disembelih itu pun berlari mengelilingi 7 kampung pada masa itu hingga akhirnya tubuh kerbau itu berubah menjadi batu.

Dari tradisi lisan itu, beberapa kampung lainnya juga terlihat punya hubungan dengan cerita kerbau batu itu, yakni di Dusun Galaggara terdapat kepala kerbau yang berubah pula jadi batu, serta di Dusun Mangngai yang konon tempat isi perut sang kerbau.

Sementara di beberapa sawah yang bermunculan di antara batu-batu karst di sekitar desa itu dipercaya sebagai darah kerbau yang akhirnya menjelma menjadi batu. Masyarakat sekitar pun percaya, situs batu dan tradisi lisan Tamangura menjadi bukti dan memuat pelajaran untuk jangan pernah berlaku sombong.

Kini Bukit Tamangura tidak setenar dulu lagim beberapa penambang batu mulai merangsek mengepungnya, entah sampai kapan situs ini akan mampu bertahan. Maka kunjungilah sebelum batu kerbau itu benar-benar punah. **

**Penulis Ilham Halim Syah di Bukit Tamangura Maros.

Sejarah Valentine Day: Versi Tragis Sampai Festival Sex

14 Februari 2015 0 Komentar

SETIAP 14 Februari dunia memperingati Valentine Day atau Hari Kasih Sayang. Bagi sebagian orang di dunia, hari itu diingatkan untuk saling berbagi kasih sayang melalui barang, perhatian atau apapun yang menunjukkan rasa cinta.

festival lupercalia valentine

Bagi umat Muslim, hari tersebut diingatkan untuk selalu menolak, berperang melawan perayaannya. Lantas bagaimana sejarah valentine day?

Apa sebenarnya Valentine Day?
Banyak penulis blog menuliskan tentang sejarah tersebut dan sedikit yang menuliskan sejarah yang sama.

Beberapa dari mereka menuliskan, hari Valentine untuk merayakan pengorbanan kematian seorang Pendeta bernama Santo Valentine. Pendeta tersebut dituliskan, menentang Kaisar Cladius pada masa 269 M untuk menikahkan pasangan yang jatuh cinta.

Santo Valentine atau St Valentine menentang aturan tersebut dan menikahkan pasangan secara diam-diam. Kaisar Cladius mengetahui lalu memenggal kepala St Valentine pada 14 Februari 269 M.

Penulis lainnya menuliskan, 14 Februari ,Hari Valentine adalah hari Suci ‘Lupercalia’ atau Hari Segala. Hari itu dipercayai untuk menghormati 3 orang dewa Romawi Kuno, Lupercus, Faunus, serta saudara kembar legendaris, yang konon mendirikan Roma, Remus dan Romulus.
Roma, Remus dan Romulus Sejarah Valentine Day, dari Versi Tragis sampai Festival Sex romus dan romulus CopyRoma, Remus dan Romulus.

Tepat 14 Februari itu, seorang Pendeta bernama Lupercalia akan berpakaian bulu kambing, melakukan upacara berdarah. Mengorbankan kambing dan seekor anjing, melumuri tubuh dengan darah seakan tubuh Lupercus menjadi merah. Lalu dia berjalan di sekitar bukit Palatine menggunakan tali dari kulit kambing yang diberi nama "Februa".

Saat Lupercus berjalan di sekitar bukit, ada sederetan perempuan yang duduk di sisi bukit. Perempuan dicambuk menggunakan Februa agar menjadi subur.

Setelah itu, perempuan berkumpul di kota, nama mereka dimasukkan dalam kotak yang disebut "Surat Cinta" atau "Billet". Laki-laki Roma lalu mengambil Bilet, nama dalam bilet tersebut akan menjadi pasangan seks liar dan berzina sampai Lupercalia atau 14 Februari berikutnya.

Hati melambangkan kekudusan hari itu. Bentuk hati pada perayaan itu digambarkan, rahim perempuan atau menurut mereka membuka kamar ke persetubuhan yang suci.

Darimana kata Valentine berasal?
Valentine adalah nama seorang Pendeta Katolik Gnostik di Roma sekitar abad ke-3. Katolik Gnostik mempertahankan budaya Lupercalia sebagai lisensi festival seks itu yang mereka sebut “Sophia dan Penebus”.

Saat upacara festival seks itu dilakukan 14 Februari, pendeta Valentine akan memimpin dan menyaksikan lalu mereka akan mengucapkan: "Biarkan cahaya benih turun ke dalam kamar pengantin-Mu, diterima oleh mempelai laki-laki… Tangan-Mu terbuka untuk memeluknya. Sesungguhnya, rahmat telah turun atasmu".

Seiring berjalannya waktu, Gereja Ortodoks menekan Katolik Gnostik dan menghasilkan "St Valentine" yang akhirnya rutin dirayakan dan hingga saat ini dan juga dinamai Hari Kasih Sayang. Begitulah sejarah valentine day. (*/rangkuman beragam sumber)

Ketidaktepatan Menulis HUT dan Dirgahayu

15 Agustus 2013 0 Komentar

SETIAP menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia banyak dijumpai tulisan yang rnengungkapkan ucapan “Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia”. Ungkapan itu dalam pemakaiannya sangat bervariasi.

bendera merah putih

Berbagai variasi itu ada beberapa di antaranya yang penulisannya kurang tepat. Perhatikan contoh "ketidaktepatan menulis HUT dan dirgahayu" di bawah ini:

(1) Dirgahayu HUT RI ke-68
(2) Dirgahayu RI ke-68
(3) HUT ke LXVIII Kemerdekaan Indonesia

Mengutip laman situs web badanbahasa.kemdikbud.go.id, penulisan dan penyusunan contoh itu dilakukan secara tidak cermat hingga menimbulkan salah tafsir.

Ketidaktepatan contoh (1) terletak pada penempatan kata dirgahayu. Kata dirgahayu merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yang bermakna 'panjang umur' atau 'berumur panjang'. Jika dihubungkan dengan makna yang didukung oleh HUT, pemakaian kata dirgahayu tidak tepat karena rangkaian kata dirgahayu HUT bermakna 'selamat panjang umur HUT'.

Makna seperti itu dapat memberi kesan bahwa yang diberi ucapan "selamat panjang umur" dan "semoga panjang umur" adalah HUT-nya, bukan RI-nya. Padahal yang dimaksud dengan ungkapan adalah RI. Oleh karena itu, agar dapat mendukung pengertian secara tepat, susunan dirgahayu HUT perlu diubah menjadi dirgahayu RI.

Ungkapan itu sudah tepat tanpa harus disertai HUT dan ke-68. Jika HUT ingin digunakan, sebaiknya kata dirgahayu dihilangkan dan kata bilangan tingkat ke-68 dipindahkan sebelum RI sehingga susunannya menjadi HUT ke-68 RI.

Ketidaktepatan contoh (2), yaitu dirgahayu RI ke-68, terletak pada penempatan kata bilangan tingkat. Dalam hal ini kata bilangan tingkat yang diletakkan sesudah RI (RI ke-68) dapat menimbulkan kesan bahwa RI seolah-olah berjumlah 68 atau mungkin lebih.

Kesan itu dapat menimbulkan pengertian bahwa yang sedang berulang tahun adalah RI yang ke-68 bukan RI yang ke-10, ke-20, ke-30, atau yang lain. Padahal, kita mengetahui bahwa di dunia ini hanya ada satu RI, yaitu Republik Indonesia, yang sedang berulang tahun ke-68.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir semacam itu, susunan RI ke-68 harus kita ubah. Pengubahan itu dilakukan dengan memindahkan kata bilangan tingkat ke-68 ke posisi sebelum RI dan menggantikan kata dirgahayu dengan HUT sehingga susunannya rnenjadi HUT ke-68 RI.

Contoh (3) ketidaktepatannya terletak pada penulisan angka Romawi. Dalam hal ini kata bilangan tingkat yang ditulis dengan angka Romawi seharusnya tidak didahului dengan ke. Oleh karena itu, bentuk ke- pada kata bilangan tingkat ke LXVIII pada contoh (3) harus dihilangkan sehingga menjadi LXVIII.

Sebaliknya, jika ditulis dengan angka Arab, bentuk ke- harus disertakan sebelum angka Arab itu sehingga bentuknya menjadi ke-68. Jadi, penulisan ungkapan contoh (3) di atas yang tepat adalah HUT LXVIII Kemerdekaan RI atau HUT ke-68 Kemerdekaan RI.

Atas dasar uraian di atas, contoh (1), (2), dan (3) yang tepat di­nyatakan sebagai berikut:

- Dirgahayu RI
- HUT ke-68 RI
- HUT LXVIII Kemerdekaan RI
- HUT ke-68 Kemerdekaan RI

Dengan menggunakan ungkapan secara cermat, selain dapat menyatakan informasi yang tepat berarti kita pun turut mendukung usaha pembinaan dan pengembangan bahasa. Saatnya menghindari "ketidaktepatan menulis HUT dan dirgahayu" ini dalam penulisan setiap materi publikasi. *

Idul Fitri Hari Raya Makan

11 Agustus 2013 0 Komentar

HARI ketiga lebaran Idul Fitri, makanan masih tersaji. Opor ayam, rendang, ikan bakar, udang goreng, sambal kacang, ketupat, dan lontong. Juga beragam minuman dan kue kering.

lebaran makan

Tradisi lebaran yang diisi makan-makan ini rasanya sejalan dengan paparan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Ya'qub, yang mengemukakan kalau Idul Fitri adalah hari makan siang tahunannya umat Islam. Hal ini berdasarkan pada kamus fikih Islam dan tatanan bahasa Arab.

Menurut Ali Mustafa, melalui www.republika.co.id, 'id dalam bahasa Arab berarti kembali atau kejadian yang berulang-ulang. Hal ini disebabkan, Idul Fitri adalah sesuatu yang berulang-ulang diperingati setiap tahunnya. Sedangkan Fitri artinya makan.

Baginya, pemaknaan Idul Fitri dengan penafsiran kembali kepada kesucian adalah penafsiran yang keliru dan tak berdasar. Demikian juga dengan istilah zakat fitrah, apakah benar dengan berzakat dua setengah liter beras dapat mengembalikan seseorang kepada fitrah sebagaimana ia baru dilahirkan?

Fitri itu artinya makan. Kalau fitrah itu artinya kondisi manusia saat dilahirkan ke dunia. Di negeri Arab sendiri, zakat fitrah disebut dengan zakat fithar (zakat makan). Untuk itu, zakat harus dikeluarkan dalam bentuk makanan seperti kurma, gandum, atau beras.

Masih menurut Ali Mustafa, menamakan zakat fithar dengan zakat fitrah, juga suatu kekeliruan. Zakat fitrah tidak bisa menjadikan seseorang suci, sebagaimana ia fitrah saat dilahirkan ke dunia. Tidak ada dalil yang sahih yang bisa dijadikan rujukan dalam hal ini.

Karena itu, baginya, publikasi berbagai mubaligh dan para da'i yang menyebut hari raya Idul Fitri adalah hari kemenangan untuk merayakan kembali kepada kesucian setelah sebulan lamanya berperang melawan hawa nafsu adalah keliru.

Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin. *

Menulis Reportase dengan Piramida Terbalik

30 Mei 2013 0 Komentar

TERKAIT teknik menulis reportase, konsep menarik yang mudah dalam menulis hasil reportase sebagai panduan dalam menulis berita adalah dengan menggunakan Piramida Terbalik.

piramida terbalik

Konsep ini memudahkah khalayak untuk segera mengetahui isi berita karena fakta terpenting disajikan pada kalimat atau alinea pertama dalam berita. Selain itu, konsep ini juga memudahkan proses editing.

Penyunting naskah akan dengan mudah menghapus bagian yang kurang penting pada berita tanpa mengurangi kebasahan berita, karena bagian tersebut diletakkan pada bagian akhir. Alur penulisan berita pada konsep ini disusun secara mengalir. Agar mudah dipahami, berikut tahapan Piramida Terbalik:

Lead
Yang dimaksudkan dengan lead adalah bagian klimaks atau inti persoalan. Jadi apa yang paling penting dan paling utama dari informasi itulah yang diletakkan pada alinea paling atas. Sehingga khalayak sudah bisa memahami atau menangkap maksud berita tersebut hanya dengan membaca atau mendengar alinea pertama saja.

Atmosfir
Pada bagian berikutnya, digambarkan suasana atau atmosfir inti cerita. Isinya berupa penggambaran suasana peristiwa, dukungan fakta-fakta detil lainnya yang melengkapi alinea pertama

Background
Pada aline ini dijabarkan latar belakan peristiwa. Biasanya menjawab pertanyaan ‘mengapa (why) dan ‘bagaimana (how)’. Artinya, fakta penyebab bagaimana peristiwa itu terjadi serta apa latar belakang peristiwa diungkap dalam alinea ini. Alinea ini memberi gambaran lebih luas sekitar sebab-sebab peristiwa.

Fakta Pendukung
Pada bagian ini diuraikan fakta-fakta lainnya yang merupakan pelengkap. Bagian ini dicatat sebagai bagian yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan alinea sebelumnya.

Karena itu, ketika pekerjaan editing atau penyuntingan menghendaki naskah diperpendek, biasanya bagian inilah yang akan dibuang dengan alasan alinea ini tidak mengurangi pemahaman khalayak pendengar atas inti materi yang diberitakan.

Editing atau penyuntingan erat hubungannya dengan ketersediaan kolom (pada media cetak dan online) serta waktu penayangan (pada media elektronik).

Teknik Piramida Terbalik dalam reportase juga digunakan sebagai langkah awal sebelum menulis liputan mendalam atau feature, sambil tetap menyadari bahwa berita yang ditulis minimal mengandung: informasi dan siginifikansi.| sumber: kompasiana.com

Menulis Berita dan Cara Media Bekerja

24 Mei 2013 0 Komentar


MASIH tentang teknik menulis reportase, kali ini seputar menulis berita dan cara media bekerja. Pada prinsipnya proses penulisan atau pembuatan dan pemuatan berita tak banyak berbeda di semua media.

Pada media yang sudah mapan, biasanya telah dibuat semacam prosedur operasional standar (SOP) dalam pembuatan berita, untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan.

Proses pembuatan berita biasanya dimulai dari rapat redaksi, yang juga merupakan jantung operasional media pemberitaan. Rapat redaksi merupakan kegiatan rutin, yang penting bagi pengembangan dan peningkatan kualitas berita yang dihasilkan.

Dalam rapat redaksi ini, para reporter, juru kamera, redaktur, bisa mengajukan usulan-usulan topik liputan. Usulan itu bisa berasal dari berbagai sumber. Misalnya, undangan liputan dari pihak luar, konferensi pers, siaran pers, berita yang sudah dimuat atau ditayangkan di media lain, hasil pengamatan wartawan, masukan dari narasumber atau informan, dan sebagainya.

Rapat redaksi memiliki sasaran untuk mengkoordinasikan kebijakan redaksi dan liputan. Menjaga kelancaran komunikasi antar staf redaksi (komunikasi antara reporter, juru kamera, staf riset, redaktur, dan sebagainya). Memecahkan masalah yang timbul sedini mungkin (potensi hambatan teknis dalam peliputan, keterbatasan sarana atau alat untuk peliputan, keamanan dalam peliputan, dan sebagainya). Serta menghasilkan hasil liputan yang berkualitas.

Dari rapat redaksi ini, ditentukan topik yang mau diliput, sekaligus ditunjuk reporter (juga juru kamera) yang harus meliputnya. Dalam pembahasan yang lebih rinci, bisa dibahas juga angle (sudut pandang) yang dipilih dari topik liputan bersangkutan, serta narasumber yang harus diwawancarai. Untuk kelengkapan data, staf riset bisa diminta mencari data tambahan guna menyempurnakan hasil liputan.

Sesudah tugas dibagikan secara jelas dalam rapat redaksi dan redaktur memberi arahan kepada reporter, berbekal informasi dan arahan tersebut, reporter pun meluncur ke lapangan. Dalam proses peliputan, bila ada masalah atau hambatan dalam liputan di lapangan, reporter dapat berkonsultasi langsung dengan redaktur yang menugaskannya. Hambatan itu, misalnya, narasumber menolak diwawancarai atau peristiwa yang diliput ternyata tidak seperti yang dibayangkan.

Setelah selesai meliput, reporter kembali ke kantor dan melaporkan hasil liputannya kepada redaktur yang memberi penugasan. Redaktur lalu membuat penilaian, apakah hasil liputan itu sudah sesuai dengan rancangan awal yang sebelumnya ditetapkan dalam rapat redaksi. Apakah ada hal-hal yang baru, yang mungkin lebih menarik diangkat dalam penulisan. Atau sebaliknya, hasil liputan ternyata justru biasa saja, tidak sehebat atau sedramatis yang diharapkan.

Redaktur juga melihat, apakah ada hal yang kurang terliput oleh reporter. Apakah hasil liputan sudah lengkap? Redaktur juga mempertimbangkan asas keberimbangan dan proporsionalitas dalam isi pemberitaan. Misalnya, apakah jumlah narasumber yang diwawancarai sudah cukup? Apakah narasumber yang diwawancarai itu sudah mewakili berbagai kepentingan yang terlibat?

Berdasarkan berbagai pertimbangan itu, redaktur mengusulkan di mana berita itu akan ditempatkan. Di sejumlah media, ada rapat khusus (kadang-kadang disebut rapat budgeting, meski ini tidak ada hubungannya dengan uang) untuk membahas penempatan berita. Namun, dalam rapat ini, reporter tidak ikut serta karena sudah diwakili oleh redakturnya.

Di rapat ini dibahas, apakah hasil liputan itu layak untuk berita utama di halaman pertama, atau sekadar layak untuk dimuat pendek di halaman dalam, atau justru tidak layak dimuat sama sekali.

Sesudah jelas, berita itu akan dimuat di halaman mana, seberapa panjangnya, serta penekanan pada aspek yang mana, si reporter disuruh menuliskannya. Hasil tulisan diserahkan kepada redaktur terkait, untuk disunting dari segi bahasa dan isinya.

Sebelum berita ini dimuat, kadang-kadang harus melalui proses penyuntingan bahasa oleh editor atau penyunting yang khusus memeriksa gaya bahasa. Jika isi berita itu dianggap layak jadi berita utama, biasanya redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi juga bisa ikut terlibat.

Kemudian, berita pun dimuat. Demikianlah proses pembuatan berita pada umumnya di media cetak. Khusus untuk media televisi (audio-visual), faktor ketersediaan gambar ikut berpengaruh, bahkan sangat berpengaruh, mengenai apakah suatu item berita akan ditayangkan atau tidak.

Kalaupun ditayangkan, format penayangannya juga banyak tergantung pada ketersediaan gambar. Yah, seperti inilah media bekerja. | disarikan dari wikimu.com

Jurnalistik: Teknik Menulis Reportase

19 Mei 2013 0 Komentar


BAGAIMANA menulis reportase? Seorang teman mengemukakan pertanyaan ini dalam sebuah grup di facebook. Untuk menjawabnya, simak paparan ini.

Reportase atau teknik peliputan berita sebagai hal mendasar yang perlu dikuasai dalam jurnalistik. Membahas teknik reportase, berarti juga membahas cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.

Setiap media memiliki kriteria kelayakan berita. Media juga memiliki kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal) dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sementara editorial policy bisa berbeda, tergantung visi, misi atau ideologi yang dianut media bersangkutan.

Perbedaan visi, misi dan ideologi media akan berpengaruh pada sudut pandang atau angle peliputan. Dua media yang berbeda bisa mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama. Kelayakan berita juga dipengaruhi oleh segmen khalayak yang dilayani setiap media.

Keinginan media untuk memuaskan kebutuhan segmen khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa secara tak langsung juga berarti melakukan seleksi terhadap apa yang layak dan tidak layak diliput.

Meski berbeda sudut pandang, namun setiap media setidaknya berpegang pada kriteria kelayakan berita berikut ini:

Penting. Suatu peristiwa diliput jika dianggap punya arti penting bagi mayoritas khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Tentu saja, media tidak akan rela memberikan space atau durasi untuk materi liputan yang remeh. Kenaikan harga bahan bakar minyak, dan sebagainya, jelas penting karena punya dampak langsung pada kehidupan orang banyak.

Aktual. Suatu peristiwa dianggap layak diliput jika baru terjadi. Maka, ada ungkapan tentang berita "hangat" artinya belum lama terjadi dan masih jadi pembicaraan masyarakat. Sebaliknya, disebut berita "basi" jika peristiwa sudah lama terjadi. Namun, pengertian "baru terjadi" bisa berbeda untuk majalah mingguan, peristiwa yang terjadi minggu lalu masih bisa dikemas dan dimuat. Untuk suratkabar harian, istilah "baru" berarti peristiwa kemarin. Untuk radio, televisi, juga media online, berkat kemajuan teknologi telekomunikasi, makna "baru" adalah beberapa jam sebelumnya atau "seketika" (real time).

Unik. Suatu peristiwa diliput karena punya unsur keunikan, kekhasan, atau tidak biasa. Orang digigit anjing, itu biasa. Tetapi, orang mengigit anjing, itu unik dan luar biasa. Contoh lain: seorang mahasiswa berangkat kuliah setiap hari, itu kejadian rutin dan biasa. Tetapi, seorang mahasiswa berangkat kuliah setiap hari dengan sepatu roda, itu unik. Di sekitar kita, selalu ada peristiwa yang tidak biasa.

Trend. Sesuatu yang sedang menjadi trend atau menggejala di kalangan masyarakat, patut mendapat perhatian untuk diliput media. Pengertian trend adalah sesuatu yang diikuti oleh orang banyak, bukan satu-dua orang saja. Misalnya, perilaku kekerasan geng motor yang sering terjadi, demonstrasi yang berujung bentrok, dan sebagainya.

Magnitude. Mendengar istilah magnitude, mengingatkan pada gempa bumi. Benar. Magnitude ini berarti "kekuatan" dari suatu peristiwa. Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter pasti jauh lebih besar dampak kerusakannya, dibandingkan gempa berkekuatan 3,1 skala Richter. Dalam konteks peristiwa untuk diliput, sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan 10.000 buruh, tentu lebih besar magnitude-nya ketimbang demonstrasi yang cuma diikuti 100 buruh.

Human Interest. Suatu peristiwa yang menyangkut manusia, selalu menarik diliput. Mungkin sudah menjadi bawaan kita untuk selalu ingin tahu tentang orang lain. Apalagi yang melibatkan drama, seperti: penderitaan, kesedihan, kebahagiaan, harapan, perjuangan, dan lain-lain. Topik-topik kemanusiaan semacam ini biasanya disajikan dalam bentuk feature.

Unsur Konflik. Konflik, seperti juga berbagai hal lain yang menyangkut hubungan antar-manusia, menarik untuk diliput. Perseteruan antara mantan penyanyi cilik Adi Bing Slamet dengan mantan penasehat spritualnya Eyang Subur menarik diliput. Mengapa? Ya, karena sangat menonjol unsur konflik dan kontroversinya. Bahkan, konflik dan kontroversi ini terus menjadi ulasan media selama sebulan ini.

Asas Kedekatan (Proximity). Suatu peristiwa yang terjadi dekat dengan khalayak, lebih layak diliput ketimbang peristiwa yang terjadi jauh dari pembaca, pendengar, atau pemirsa. Banjir di Makassar atau Jakarta tentu lebih perlu diberitakan ketimbang peristiwa yang sama tetapi terjadi di India. Unsur "kedekatan" juga berarti kedekatan emosional, semisal, agresi Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, secara geografis jauh, tetapi secara emosional cukup dekat bagi khalayak media di Indonesia.

Asas Keterkenalan (Prominence). Nama terkenal bisa menjadi berita, tokoh dan figur publik seperti artis, pejabat pemerintah, politisi, olahragawan dan sebagainya. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) punya akun twitter, rata-rata media memberitakannya. Padahal ada ribuan warga Indonesia yang sudah memiliki akun twitter, tapi karena SBY adalah orang nomor satu di negeri ini, maka kehadirannya di jagad maya manjadi berita menarik.

Dalam memilih topik liputan, bisa saja media menggabung beberapa kriteria kelayakan. Misalnya, kasus dugaan korupsi impor sapi. Pertama, kasus ini melibatkan tokoh partai politik, seorang figur publik (asas keterkenalan). Kedua, kasus ini kemudian melibatkan sejumlah selebriti dan model, luar biasa (unik). Ketiga, peristiwa itu terjadi saat gerakan anti korupsi digalakkan (penting). Dan seterusnya. | disarikan dari wikimu.com

Menikmati Roti Maros di Sore Hari

10 Maret 2013 0 Komentar

roti maros



MINGGU sore ini saya di rumah saja. Menggunakan waktu libur berkumpul bersama keluarga. Saya pun memilih menikmati roti maros dan secangkir kopi. Penganan khas Maros yang banyak dijual di kedai-kedai di sepanjang jalan poros Makassar-Maros ini merupakan roti empuk berbentuk potongan kecil-kecil berisi selai kaya.

Selai kaya dalam roti yang juga populer dengan sebutan 'roma' ini dibuat dari campuran kuning telur, santan, dan gula. Selai kaya rasanya manis, gurih dan enak, inilah yang membuat roti maros bercitarasa khas. Sambil menikmati kopi dan roma ini, benak saya menyuguhkan tanya, mengapa roma menjadi begitu populer?

Lewat gadget di tangan, saya pun melakukan penelusuran kata "roti maros" di internet. Hasil penelusuran itu akhirnya membawa saya pada informasi ini, konon, ketika pertama kali hadir di Maros, roti ini justru dibuat besar, kemudian dipotong-potong menjadi kotak-kotak kecil yang bisa langsung dimakan dua hingga tiga kali gigitan.

Roma juga belum setenar sekarang, karena hanya dijual di sekitar Maros. Roma mulai populer saat para sopir angkutan antar kota yang melewati jalan poros Makassar-Maros rata-rata mampir bersama penumpangnya di kedai-kedai roti maros sebelum melanjutkan perjalanan.

Saat mobil angkutan mampir, para penumpang turun membeli Roti Maros sebagai bekal selama perjalanan atau oleh-oleh untuk keluarga atau kerabatnya di rumah. Menjadikan Roma sebagai bekal selama perjalanan atau sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di kampung halaman lama-kelamaan membuat Roma kian dikenal.

Saat penumpang mobil angkutan antar kota itu tiba di rumah membawa roti, keluarga atau kerabatnya akan bertanya; roti apa ini? Mereka tentu menjawabnya; roti maros. | *

Menulis Untuk Kreativitas dan Berkomunikasi

2 Maret 2013 0 Komentar



BULAN lalu, saya menjadi salah satu narasumber seminar kepenulisan yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Maros. Dalam seminar kepenulisan yang dilaksanakan di aula Al Markaz Al Islami Maros itu, saya memotivasi kaum muda untuk menulis. Kelanjutan dari seminar itu, saya pun mengagas kelas menulis bersama Macz Indie Books (MIB) Maros.

Sebagai persiapan dimulainya kelas menulis MIB Maros, berikut ini saya sajikan artikel seputar kepenulisan untuk bahan bacaan bersama, yakni menulis untuk kreativitas dan berkomunikasi, di bawah ini:

Menulis untuk Kreativitas

Menulis, bagi beberapa orang, adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan dan menyenangkan. Bagi beberapa orang yang lain, hal tersebut bisa sangat bertolak belaknag. Menulis itu menyulitkan dan menyebalkan. Hanya diri anda sendiri yang bisa menilai dimanakan posisi anda sebenarnya, golongan pertama, atau golongan kedua.

Jika anda menyukai menulis dan menganggapnya menyenangkan, itu merupakan hal yang bagus. Lantas, bagaimana jika anda termasuk ke dalam golongan yang  kedua? Hmm, cukup sulit memang untuk bisa menghasilkan tulisan atau artikel yang menarik. Lalu, bagaimana tips menulis agar terasa menyenangkan dan mengasyikkan?

Masalah menulis ini hanyalah masalah cara pandang. Diawal proses menulis disaat anda bersiap-siap akan menulis, sadarilah akan proses menulis yang akan memberikan perasaan yang menyenangkan. Tanamkanlah hal itu di dalam benak anda. Jika anda termasuk orang yang kreatif dan senang mengkhayal, maka anda harus mensugestikan pikiran anda bahwa munlis itu merupakan salah satu cara untuk mengkhayal

Khayalan dan ide-ide kreatif muncul seperti api yang melahap sumbu kembang api; kemudian, luapan kegembiraan pun mengikutinya seperti percikan cahaya yang menghiasi kegelapan malam. Demikian halnya dalam ranah tulis-menulis, kesenangan mengikuti proses menciptakan ide-ide kreatif.

Berpikir kreatif berarti berani menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya dengan mengerahkan kekuatan daya imajinasi kita. Proses menciptakan sesuatu berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, menyelami keraguan dan akhirnya menemukan pemecahan yang kreatif. Aktivitas menulis mendorong kita untuk berpikir kreatif dalam menjawab pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan.

Dengan membiasakan diri berkecimpung dalam dunia ini, penulis pun akan terbiasa menikmati saat-saat bermain dengan huruf yang menciptakan kata, kata yang menciptakan kalimat, kalimat yang menciptakan paragraf, dan paragraf yang menciptakan makna.

Teruslah berkarya karena menulis memberikan kepuasan dan kesenangan di mana saja dan kapan saja. Seorang penulis terkemuka asal negeri Paman Sam berkata “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik (untuk menulis), teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.

Menulis untuk Berkomunikasi

Bagi beberapa orang, menulis itu bisa sangat menyenangkan. Tetapi bagi beberapa orang yang lain, menulis itu bisa sangat-sangat menyebalkan. Termasuk golongan manakah anda? Kalau termasuk golongan pertama, maka anda tidak akan merasa kesulitan untuk bisa menghasilkan tulisan yang menarik. Lantas, bagaimana jika anda termasuk ke dalam golongan yang  kedua?

Maka anda akan merasa kesulitan dalam menghasilkan tulisan yang menarik. bahkan untuk memulai mengetikkan jemari diatas keyboard pun mungkin anda akan merasa kesulitan. Lantas bagaimana tips menulis agar bisa terasa menyenangkan bagi setiap orang?

Sebenarnya masalah ini hanyalah masalah sudut pandang semata. Atau lebih tepatnya cara pandang. Diawal proses menulis disaat anda bersiap-siap akan menulis, sadarilah akan proses menulis yang akan memberikan perasaan yang menyenangkan. Tanamkanlah hal itu di dalah benak anda. Jika anda termasuk orang yang senang menjalin komunikasi dengan orang lain, maka anggaplah proses menulis ini sebagai proses berbicara dengan orang lain.

Proses menulis bisa memberikan kepuasan dan rasa senang bagi penulis karena tulisan merupakan suatu bentuk alat komunikasi yang penting. Seorang Penulis dapat mengekspresikan aspek-aspek pemikirannya terhadap lingkungan sosial melalui kata-katanya. Seorang penyair pernah mengatakan bahwa seorang penulis bukan hanya seorang yang mengatakan sesuatu, tetapi dia juga orang yang tahu cara untuk mengatakannya.

Proses menulis tidak hanya berhubungan dengan diri penulis sendiri, tetapi sebuah tulisan juga menjalin pertalian dengan banyak orang di sekitarnya. Bayangkan, lewat satu artikel saja, penulis bisa menjangkau ribuan orang. Bahkan sebuah kalimat saja mungkin bisa menginspirasi kehidupan seseorang.

Penulis adalah saksi zaman yang mencatat kenyataan di sekelilingnya. Dia perlu menjadi pengamat yang peka saat melakukan seleksi, analisis, dan penilaian dalam tulisan-tulisannya. Seperti para seniman lainnya, para penulis juga mengangkat pertanyaan-pertanyaan untuk membuat publik merenung. Tidak jarang juga penulis menyumbangkan ide-ide yang bermanfaat bagi lingkungannya. Sungguh sangat menyenangkan, bahwa dengan menulis kita bisa berkomunikasi dengan seluruh entitas yang ada.

Semoga artikel menulis untuk kreativitas dan berkomunikasi yang saya salin dari laman website paidreviewindonesia.com ini dapat membuka wawasan awal para 'siswa' kelas menulis MIB Maros sebelum memasuki materi pelajaran menulis yang akan kami sajikan dalam kelas. | *

Menulis Itu Mudah

10 Februari 2013 0 Komentar



PEKAN lalu, saya menjadi salah satu narasumber dalam seminar kepenulisan yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Maros. Seminar kepenulisan yang dilaksanakan di aula Al Markaz Al Islami Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (3/2/2013) itu, menghadirkan sekira 50 pelajar dan mahasiswa yang berasal bukan saja dari Kabupaten Maros, namun juga Pangkep bahkan Bandung.

Dalam seminar ini yang mengangkat tema "Membangun Tradisi Menulis di Butta Salewangang" itu, saya memotivasi kaum muda untuk menulis melalui paparan 'Menulis Itu Mudah'.

Saya sampaikan, jika bisa berbicara mestinya bisa menulis, karena menulis hanyalah proses perpindahan bentuk, dari lisan ke tulisan. Untuk bisa menulis perlu keinginan yang kuat, mulailah menulis dari hal-hal sederhana di sekitar kita, tak perlu menulis topik yang berat.

Menulislah dari hal-hal sekitar yang dialami sendiri, semisal menulis dalam buku harian atau diary atau menuliskan perasaan semisal puisi. Dalam aktifitas sehari-hari, sesungguhnya setiap orang nyaris sudah akrab dengan menulis, contoh sederhana adalah menulis lewat status atau twit, sehingga menulis itu mudah.

Mulailah menulis dari topik yang digemari, hal-hal yang dipahami, pengalaman keseharian. Kalau suka makan, menulislah tentang ragam jenis makanan dan kuliner. Meski kata orang menulis itu perlu bakat, tapi bagi saya menulis hanya perlu latihan.

Menulis ibarat naik sepeda, awalnya takut jatuh, takut nabrak tapi saat lancar, begitu mudah dan menyenangkan. Ketika akan memulai menulis, bakat urusan belakangan, yang paling kemauan dan terus mencoba.

Latihanlah menulis sampai merasa bisa, setelah terbiasa barulah memupuk intuisi kebahasaan agar karangan jadi indah. Inti menulis adalah mengolah kata-kata berdasar realitas atau imajinasi, atau gabungan keduanya.

Karena itu menulis juga dapat diibaratkan memasak, bumbu dan cara tiap orang berbeda, tapi kalau ada cara lebih baik itu yang perlu dipelajari. Untuk bisa menulis dengan baik yang penting dimiliki oleh calon penulis adalah motivasi untuk terus menulis.

Motivasi yang tinggi akan mudah menghasilkan tulisan, atasi rasa malas agar yang lain bisa dipelajari. Memang ada hambatan dalam menulis, kesulitan memulai menulis atau kesulitan menuangkan ide.

Ada juga kesulitan merangkai kata atau kalimat dengan tepat, akibat keterbatasan perbendaharaan kata dan istilah. Kesulitan lain, rendah minat dan motivasi menulis, juga rendah minat baca yang membuat wawasan jadi sempit.

Namun berbagai hambatan menulis itu dapat diatasi dengan membiasakan diri membaca, membaca apa saja. Ada ungkapan, jika ingin menulis maka membacalah, karena embaca perkaya wawasan dan kosakata. Selain rajin membaca, rajin mengamati peristiwa juga menjadi modal menulis, sebab dapat melahirkan ide menulis.

Penting diingat, menulis adalah menyampaikan informasi dan berbagi pengetahuan, menulis juga mengabadikan wawasan.

Sebenarnya menulis tidak sesulit dibayangkan, asalkan mau belajar, berusaha, berlatih insting dan kepekaan. Untuk memudahkan menulis, ketahui langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memulai menulis:

  • Menentukan topik dan mengumpulkan bahan sesuai dengan topik,
  • Menuangkan ide yang berhubungan dengan topik dalam bentuk kerangka tulisan,
  • Mengembangkan kerangka tulisan menjadi uraian kalimat yang lengkap,
  • Membaca kembali tulisan sekaligus membetulkan dan merapikan urutan sajian secara logis dan berurutan.

Patut dicamkan kalau menulis bukanlah pekerjaan susah, hanya perlu terus mencoba sampai bisa. Meski kadang ada kesulitan saat menulis, diantaranya bingung harus memulai dari mana? Maka mulailah menulis dari mana saja, tuliskan topik yang diketahui seperti agar tulisan mengalir seperti air.

Itulah paparan 'Menulis Itu Mudah' ini, senang bisa berbagi pengetahuan dengan teman-teman FLP Maros ini. Selanjutnya, untuk materi kepenulisan lainnya, silahkan baca 'Teknik Menulis dengan Rumus 5W + 1H', juga ulasan 'Mengenal Jurnalistik Non Berita'. Salam menulis. | *

Mengenal Jurnalistik Non Berita

19 Maret 2012 1 Komentar

jurnalistik non beritaSEORANG pengunjung blog ini meninggalkan komentar pada artikel Menulis Berita bersama Warga dengan mengemukakan kalau ia tertarik mempelajari jurnalistik tapi bukan menulis berita.

Saya menjawabnya, secara umum, jurnalistik digunakan untuk penulisan yang terkait dengan media massa, baik berita maupun non berita.

Jurnalistik non berita adalah opini, profil dan sebagainya, untuk ulasan jurnalistik non berita saya berjanji akan mengulasnya kemudian. Janji itu pun saya penuhi dengan menulis paparan ini.

Secara sederhana, jurnalistik dipahami sebagai pengetahuan tentang penulisan, penafsiran, proses dan penyebaran informasi secara sistematik dan dapat dipercaya untuk diterbitkan kepada masyarakat umum melalui media massa.

Pengertian ini memberi pemahaman kalau sebuah tulisan tidak akan disebut karya jurnalistik jika tidak disajikan kepada publik atau masyarakat melalui media massa.

Kemudian dalam kajian jurnalistik, tulisan dalam media massa selama ini dikenal dalam dua bentuk, yakni berita dan non berita. Karena dalam artikel sebelumnya saya telah membahas sejumlah hal tentang berita, maka kali ini pemaparan saya akan lebih mengkhusus pada jurnalistik non berita yang mencakup artikel, opini, kolom, essai, resensi, tajuk rencana dan lainnya.

1. Artikel
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artikel didefinisikan sebagai "karya tulis lengkap di majalah, surat kabar dan sebagainya". Berdasarkan pengertian ini, maka artikel sejatinya memuat informasi yang luas dan umum. Artikel juga sering didefiniskan sebagai "pemikiran, pendapat, ide dan opini seseorang tentang pelbagai tema dan peristiwa".

Menulis artikel tidak jauh beda dengan bentuk tulisan lain, hal pertama yang perlu dilakuan adalah menentukan tema. Inspirasi dapat berasal dari ide diperoleh dari proses berpikir, pendapat orang lain atau dari peristiwa yang kita ketahui baik secara langsung maupun tidak langsung. Tema sebaiknya aktual atau mengangkat topik yang sedang hangat diperbincangkan.

Setelah menemukan tema, tentukan sudut pandang penulisan. Sudut pandang dapat ditinjau dari aspek politik, ekonomi, hukum, budaya, agama, dan sebagainya. Artikel dapat pula dibuat dengan menggabungkan berbagai sudut pandang tersebut.

Jika berita manyajikan hanya fakta tentang apa yang telah terjadi, artikel memuat ulasan tentang fakta yang telah terjadi itu dan dapat memuat apa yang bakal terjadi (prediksi) secara, ulasannya tentu mesti diperkuat dengan berbagai argumentasi dan dapat didukung dengan data yang akurat.

Setelah menemukan tema dan sudut pandang, saatnya tentukan topik bahasan. Karena banyak memuat pendapat dan argumentasi, maka karya tulis dalam bentuk artikel lebih cenderung berupa karangan argumentatif. Bagi pemula, membuat kerangka karangan dapat dilakukan agar tulisan yang dibuat dapat lebih terarah dan sistematis.

Judul dalam artikel biasanya tidak sama persis dengan topik yang dibicarakan, semisal topik tentang "Kenaikan Harga BBM" judul artikel dapat saja menjadi "Aksi Menolak Kenaikan Harga BBM Mulai Marak". Judul ini sebaiknya dibuat singkat, namun mesti menjiwai seluruh isi tulisan dan dapat menggelitik orang untuk pembacannya.

Patut dipahami, kalau artikel merupakan karya jurnalisik yang mempunyai nilai ilmiah bahkan merupakan karya ilmiah. Karena dalam artikel susunan penulisannya mengikuti kaidah karya ilmiah: ada batasan-batasan permasalahan yang diungkapkan untuk selanjutnya diurai dalam tulisan, bahasa yang digunakan adalah bahasa ilmiah-baku yang tidak kaku.

2. Opini
Dalam pemahaman sederhana, opini adalah sebagai sebuah tulisan yang memuat pendapat atau pandangan penulis. Karenanya opini didefinisikan sebagai tulisan dalam media cetak yang memasukan pendapat penulis di dalamnya. Artinya, opini adalah artikel yang mengandung subjektivitas, bukan hanya fakta.

Opini bukan merupakan konstruksi peristiwa, tetapi lebih pada penilaian terhadap peristiwa (fakta), jadi dalam opini terdapat unsur-unsur subyektifitas penulis dalam penyajiannya. Dalam hal penulisan, opini tidak mesti berdasar pada rumus 5W+IH sebagaimana berita.

Menulis sebuah opini sama halnya dengan menulis artikel, perlu menentukan tema dan kerangka karangan. Namun biasanya untuk opini -semisal dalam bentuk surat pembaca- hanya mengungkapkan satu tema khusus yang sifatnya lebih menyoroti topik tertentu yang lebih sempit. Sedangkan opini dalam bentuk artikel mengulas suatu hal lebih luas dan mendalam meski tetap pada satu tema tertentu.

Dalam jurnalistik, ada beberapa bentuk penulisan opin, yakni artikel, kolom, esai, resensi. Beberapa bentuk tulisan tersebut lazimnya merupakan ruang bagi pembaca.

3. Kolom dan Essai
Kolom dimaksudkan untuk mengurai permasalahan menjadikan lebih terarah. Dalam penulisannya, kolom tidak ketat seperti artikel, bahasa yang digunakan lebih lentur, mudah dipahami, serta terkesan santai. Sementara bentuk tulisan essai lebih longgar dan lebih pendek dari kolom.

Dalam essai, kekhasan personal penulisnya lebih ditonjolkan dalam mengurai permasalahan. Sehingga biasanya karakter penulis akan tercermin saat memaparkan idenya dalam essai yang ditulisnya.

4. Resensi
Resensi merupakan bentuk tulisan dalam hal pengambaran atau analisa terhadap sebuah teks. Teks dimaksud dapat berupa buku, film, pertunjukan teater, pameran seni maupun lagu. Sebagian orang menyebut resensi sama dengan sinopsis, pengambaran secara global tentang teks.

Namun sebenarnya tidaklah sama, karena dalam resensi ada sentuhan analisa penulis. Seorang resensor juga harus berlaku subyektif mungkin dalam menggambarkan atau menganalisa teks.

5. Tajuk Rencana
Tajuk Rencana atau disebut juga editorial adalah suatu karya tulis yang merupakan pandangan redaksi terhadap suatu fakta atau realitas, karena merupakan pandangan redaksi, maka tulisan ini bersangkutan dengan penilaian redaksi. Tajuk rencana memuat fakta dan opini yang disusun secara ringkas dan logis.

Biasanya judul editorial sifatnya meghimbau pembaca dengan menggunakan kalimat untuk paragraf awal atau lead yang tidak terlalu panjang. Editorial yang baik mengandung keseimbangan antara menentukan dan menganalisa problema dengan logis dengan penyajian hasil analisa dalam bentuk tulisan yang enak dibaca.

Kalau artikel, opini dan surat pembaca dalam surat kabar merupakan pendapat seseorang pembaca terhadap suatu masalah, peristiwa atau kejadian tertentu. Tajuk Rencana atau editorial adalah opini atau pendapat redaksi media massa bersangkutan.

Selain artikel, opini, kolom, essai, resensi, tajuk rencana dan lain-lain, dalam media cetak juga ada yang disebut pojok yang merupakan tulisan tanpa sentilan. Pojok bisanya berisi sindiran terhadap realitas yang ditulis dengan gaya satire, lucu, atau kocak.

Selain pojok, ada juga karikatur yang juga merupakan penilaian redaksi terhadap realitas namun diungkapkan melalui gambar atau kartun.

Karena keberadaan jurnalistik non berita ini, maka media massa terutama media cetak menjadi pilihan bagi penulis untuk menyampaikan ide, gagasan, pendapat, fakta, data atau informasi lain agar diketahui publik. Selamat malam.

Menulis Berita bersama Warga

12 Maret 2012 3 Komentar

menulis beritaMASIH terkait materi jurnalistik, kali ini saya paparkan secara sederhana teknik penulisan berita. Namun, ada baiknya memahami dulu nilai, struktur serta sumber berita dulu.

Mengutip Dahlan Dahi, Pemimpin Redaksi Tribun Timur Makassar, dalam personal blognya; www.dahlandahi.com, yang memaparkan kalau dalam menyajikan berita haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai-nilai berita tersebut mencakup:

  • Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
  • Aktual: terbaru, belum "basi".
  • Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
  • Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
  • Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).

Nilai berita di atas sudah dianggap cukup dalam menyusun berita (menurut Kris Budiman). Namun dalam buku "Teknik Menulis Berita dan Feature" dari Masri Sareb Putra disampaikan dua belas nilai berita, yakni:

  • Sesuatu yang unik,
  • Sesuatu yang luar biasa,
  • Sesuatu yang langka,
  • Sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
  • Sesuatu yang tersembunyi,
  • Sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
  • Sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
  • Menyangkut keinginan publik,
  • Pemikiran dari tokoh penting,
  • Komentar/ucapan dari tokoh penting,
  • Kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
  • Hal lain yang luar biasa.

Dalam kenyataannya, tidak semua nilai berita tersebut digunakan dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi berita. Sementara untuk sumber berita, terdapat beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, yakni: observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita, pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik, wawancara, dan partisipasi dalam peristiwa.

Menurut strukturnya, berita tersusun secara sistimatis dan memiliki bagian-bagian sebagai berikut:

  • Judul atau kepala berita (headl)
  • Baris tanggal (date)
  • Teras berita (lead atau intro)
  • Tubuh berita (body)
  • Keterangan penutup (ending)

Bagian-bagian ini tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini menyajikan informasi yang paling penting pada awal alinea dan menjadi intisari dari seluruh berita.

Jika dibuat gradasi, alinea yang berada di bawah berisi informasi yang semakin tidak penting. Dengan kata lain, alinea pertama adalah yang paling penting, alinea selanjutnya (ke bawah) semakin tidak penting dan yang paling bawah adalah yang paling tidak penting.

Metode piramida terbalik bertujuan memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan, juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak atau kurang penting yang terletak di bagian bawah dari tubuh berita. Sehingga sebuah berita yang baik dapat ditemukan dengan menggunakan rumus 5W + 1 melalui pendekatan nilai dan berpatokan pada struktur berita. Perhatikan contoh berita di bawah ini:

Pelatihan Pengelolaan Media [headline]

Ruang Belajar Masyarakat (RBM) Kabupaten Maros menggelar Pelatihan Pengelolaan Media [what] di Hotel Transit II Maros [where], Sabtu dan Minggu (10-11 Maret) [dateline] [when]. RBM merupakan salah satu satu kelompok kerja yang diinisiasi oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan (MPd) [lead atau intro].

Dalam pelatihan yang diikuti para kader RBM dan PNPM-MPd dari 14 kecamatan se-Maros ini, saya berkesempatan menyampaikan materi pengetahuan dasar jurnalistik, diantaranya teknik menulis berita, teknik wawancara, juga pengenalan layout media [how] [body].

Selain itu, peserta juga diberikan materi tambahan pengetahuan fotografi jurnalistik yang disampaikan oleh penggiat Maros Fotografi dan Film (MARFOGRAFI), Muh Fajrin Yusuf, materi pengenalan media online yang disampaikan oleh Koordinator Komunitas Blogger Maros (KBM) Muh Ansari. Serta Juga dipaparkan tantang materi manajeman pengelolaan media informasi yang disampaikan oleh Muh Irdan AB. [who] [body]

Fasilitator PNPM-MPd Kecamatan Mallawa, Maros, A Nur Firman [who] mengemukakan bahwa kegiatan ini digelar untuk membekali pengetahuan jurnalistik para kader di kecamatan agar mampu mengelola dan menyampaikan informasi kegiatan dan program PNPM-Md. [why] [body]

Usai mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu pengelola media informasi di kecamatannya masing-masing. [ending]

Keterangan berwarna biru adalah contoh penggunaan struktur berita dan keterangan berwarna merah adalah contoh penggunaan unsur 5W + 1 dalam menulis berita. | berita di atas dimuat dalam portal berita tribun-timur.com dalam bentuk citizen reporter: http://makassar.tribunnews.com/2012/03/11/pelatihan-pengelolaan-media

Kembali Berbicara Jurnalistik

11 Maret 2012 0 Komentar

berbicara jurnalistikPEKAN ini, saya kembali menyampaikan materi jurnalistik dengan menjadi salah satu pembicara dalam Pelatihan Pengelolaan Media yang digelar oleh Ruang Belajar Masyarakat (RBM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan (MPd) Kabupaten Maros.

Kalau beberapa waktu lalu, saya menyajikan materi jurnalistik di tingkat kecamatan, dalam pelatihan yang digelar selama dua hari (Sabtu-Minggu, 10-11 Maret) di Hotel Transit II Maros ini, saya berbicara jurnalistik di hadapan kader dan pelaku RBM dan PNPM-MPd tingkat kabupaten.

Selain memaparkan materi pengertian, perkembangan dan unsur jurnalistik, saya juga mengulas pengertian berita atau news. Dalam beragam literatur jurnalisme, berita atau news (bahasa Inggris) diartikan sebagai laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta aktual, menarik perhatian, dinilai penting atau luar biasa.

Jika merunut asal katanya, "news" mengandung pengertian penting, berasal dari kata "new" yang berarti baru. Karenanya berita haruslah mempunyai sifat kebaruan atau aktualitas. Selain itu, kata "news" juga dapat dijabarkan menjadi north, east, west, south yang bermakna dalam mencari berita, informasi harus digali dari empat arah mata angin atau dari berbagi sumber yang relevan.

Berdasarkan cara penulisannya, berita dibedakan menjadi; straight news (berita langsung), feature news (berita kisah), indepth reporting (pelaporan mendalam) dan investigative reporting (pelaporan investigasi).

Straight news adalah jenis berita yang digunakan untuk menyampaikan informasi penting secara singkat dan cepat. Penulisan Straight news dilakukan dengan menggunakan format piramida terbalik. Format ini menyajikan informasi yang paling penting dituliskan pada alinea paling atas dan merupakan intisari dari seluruh berita dengan menggunakan rumus 5W + 1H dalam alinea ini.

Jika dibuat gradasi, alinea yang berada di bawah berisi informasi yang semakin tidak penting. Dengan kata lain, alinea pertama adalah yang paling penting, alinea selanjutnya (ke bawah) semakin tidak penting dan yang paling bawah adalah yang paling tidak penting.

Selanjutnya, dikenal dua jenis straight news, yakni hard news atau berita langsung yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, sosial, dan kriminalitas. Serta soft news atau berita langsung tentang hal-hal ringan, semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dan sebagainya.

Untuk feature news atau berita kisah merupakan jenis berita yang dalam penulisannya lebih bersifat naratif, berkisah mengenai hal-hal yang menyentuh aspek-aspek kemanusiaan atau human interest. Sebuah feature tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas.

Sementara indepth reporting atau pelaporan mendalam merupakan pengembangan dari berita yang sudah dimuat atau berita baru yang diulas lebih mendalam. Indepth reporting dapat bermula dari suatu berita yang masih belum selesai pengungkapannya dan bisa dilanjutkan kembali. Pendalaman dilakukan dengan mencari informasi tambahan dari nara sumber atau berita yang terkait dengan peristiwa sebelumnya.

Investigative reporting atau pelaporan investigasi merupakan kelanjutan dari indepth reporting. Menurut mantan pemimpin redaksi majalah TEMPO, Goenawan Mohamad; reportase investigatif merupakan jurnalisme "membongkar kejahatan".

Elemen dasar pelaporan atau liputan investigasi haruslah merupakan ide orisinil dari penulis investigasi, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindaklanjuti oleh media. Subyek investigasi merupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca atau pemirsa media.

Demikian rangkuman paparan saya tentang pengertian berita (news) dan jenis berita yang saya sampaikan dalam pelatihan jurnalistik ini. | *

Teknik Menulis dengan Rumus 5W + 1H

28 Februari 2012 1 Komentar

DALAM sebuah perbincangan, kawan saya mengatakan, menulis itu gampang-gampang susah. Susah karena bingung bagaimana harus memulai, bingung tak tahu apa yang akan diceritakan.

5W1H

Saya pun menyarankan agar ia menggunakan rumus 5W+1H sebagai panduan dalam menulis. Rumus ini mencakup What, Who, When, Where, Why, How. Sebuah rumus penulisan yang berlaku universal dan mencakup hal-hal dasar yang harus dipenuhi untuk kelengkapan sebuah tulisan.

Rumus 5W + 1H ini adalah pedoman dasar penulisan jurnalistik, namun tak salah jika digunakan pula dalam menulis konten blog. Penerapan rumus ini, cukup sederhana, yakni;

  • WHAT menyatakan apa yang ditulis, menentukan tema apa yang ingin ditulis, semisal tentang peristiwa di sekitar tempat tinggal, masalah sosial atau apapun yang menarik perhatian dan layak diketahui orang lain.
  • WHO menyatakan tokoh yang terlibat dalam topik yang ditulis. Bila tokoh itu tak cukup dikenal oleh pembaca, maka kewajiban penulis untuk “memperkenalkan” si tokoh dengan menjelaskan siapa dan apa perannya dalam peristiwa yang ditulis.
  • WHEN menyatakan waktu kejadian dari peristiwa yang diceritakan (WHAT). Jika itu sebuah peristiwa yang terjadi di sekitar tempat tinggal penulis, maka ceritakanlah kapan peristiwa itu terjadi.
  • WHERE menyatakan tempat terjadinya peristiwa. Keterangan tentang tempat ini dapat ditulis secara lengkap, misalnya dengan menyebutkan nama jalan, nama kota atau nama tempat lainnya agar mudah dikenali.
  • Sementara WHY menyatakan mengapa peristiwa itu terjadi. Dalam hal ini, mesti diceritakan apa yang menjadi latar belakang dari peristiwa, bisanya sisi inilah yang menjadi bagian paling menarik dari peristiwa.
  • Kemudian H adalah HOW yang menerangkan bagaimana peristiwa terjadi, paparannya mencakup proses terjadinya peristiwa secara kronologis.

Inilah unsur-unsur dasar yang patut dipenuhi agar tulisan lengkap dan informatif, jangan lupa ketepatan data dalam memenuhi unsur-unsur tulisan itu. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman akibat informasi yang kurang akurat.

Selanjutnya, hindari kesalahan penulisan, pilih kata yang tepat, paparkan peristiwa secara detail agar tulisan yang dihasilkan informatif. Tambahkan pula data yang relevan agar informasi yang disajikan lebih akurat. Demikain paparan  Teknik Menulis dengan Rumus 5W + 1H, selamat menulis. | *

Dimana, Kesalahan Penulisan di Mana

26 Februari 2012 2 Komentar

kesalahan penulisan dimana dan di manaSAAT ini saya seringkali menemukan penggunaan kata "dimana" yang kurang tepat. Terutama saat kata "dimana" itu dimaksudkan untuk menunjukkan tempat. Namun banyak orang menuliskan kata "di" dan "mana" tanpa memisahnya.

Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), penulisan kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti "kepada" dan "daripada".

Penulisan kata depan ini disebut Preposisi (bahasa Latin: prae, "sebelum" dan ponere, "menempatkan, tempat") yang diartikan sebagai kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina.

Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan. Cara penggolongan preposisi bervariasi tergantung dari rujukan yang digunakan, misalnya:

  • Preposisi yang menandai tempat; di, ke, dari.
  • Preposisi yang menandai maksud dan tujuan; untuk, guna.
  • Preposisi yang menandai waktu; hingga, hampir.
  • Preposisi yang menandai sebab; demi, atas.

Secara baku penulisan preposisi ditulis terpisah, misalnya; di dalam, ke tengah, dari Jakarta. Adapun penulisan preposisi yang ditulis tanpa dipisah, adalah; ada, kemari, daripada, keluar (sebagai lawan kata "masuk"), sementara untuk lawan kata "ke dalam" penulisan harus dipisah; "ke luar".

Patut dipahami kalau bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk "di mana" atau "dimana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah "who", "whom", "which", atau "where") atau variasinya ("dalam mana", "dengan mana", "yang mana", dan sebagainya) untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat.

Perhatikan kalimat ini: Ia kembali ke Jakarta, dimana ia dilahirkan. Kalimat itu tidak baku, perbaikannya adalah: Ia kembali ke Jakarta, tempat ia dilahirkan. Contoh lain penggunaan kata "di mana" (selalu ditulis terpisah) yang betul ada pada kalimat tanya, seperti: "Alamat kamu di mana?" atau "Di mana kamu dilahirkan?"

Paparan ini tentu tak bermaksud menggurui, hanya mengingatkan kembali tentang pentingnya menggunakan kata "di mana" yang benar, untuk menghindari kesalahan penulisan yang dianggap biasa ini. Selamat berakhir pekan. | *

Berbicara Jurnalistik dengan Warga Tanralili

13 Januari 2012 0 Komentar

SELAMA dua hari, Rabu (11/1) dan Kamis (12/1) ini, bersama pegiat Maros Fotografi dan Film (MARFOGRAFI) Uno, saya menjadi pembicara dalam Pelatihan Jurnalistik Masyarakat di Kecamatan Tanralili, Maros.

Pelatihan ini digelar oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM M-Pd) Kecamatan Tanralili dan diikuti sekitar 16 peserta yang merupakan wakil dari delapan desa yang ada di Tanralili. Dalam pelatihan ini, saya menyajikan materi bertopik; Pengetahuan Dasar Jurnalistik. Berikut inti sari paparan saya:

Pengertian Jurnalistik

Di hadapan peserta, saya kemukakan kalau jurnalistik berasal dari kata journalistic (Inggris) yang mengandung pengertian mengenai kewartawanan. Jurnalistik juga berasal dari kata journal/du jour, acta diurna (Latin) yang artinya catatan harian.

Karenanya, kegiatan jurnalistik awalnya bersifat harian atau berita-berita yang dikemas dalam bentuk cetakan yang disampaikan setiap hari.

Dengan pemahaman itu, maka jurnalistik dapat diartikan sebagai segala bentuk kegiatan yang dilakukan dan sarana yang digunakan dalam mencari, memproses dan menyusun berita hingga mencapai publik atau kelompok tertentu yang menaruh perhatian khusus pada hal-hal tertentu.

Jurnalistik juga dipahami sebagai pengetahuan tentang penulisan, penafsiran, proses dan penyebaran informasi umum dan hiburan umum secara sistematik dan dapat dipercaya untuk diterbitkan.

Perkembangan Jurnalistik

Dalam perkembangannya, jurnalistik mulai dikenal secara meluas pada tahun 1960-an, saat 'jurnalistik baru' lahir dengan ciri pesan atau berita menuruti gaya prosa. Kemudian pada tahun 1970-an, saat 'jurnalistik presesi' lahir dengan ciri pesan atau berita diolah menggunakan metode riset ilmiah.

Selanjutnya pada era komputer/internet, seperti saat ini melahirkan 'cyber jurnalistik', yakni penyusunan dan penyebaran pesan atau berita melalui jaringan internet. Metode ini juga disebut 'jurnalistik media online'.

Unsur Jurnalistik (5W + 1H)

Saya juga memaparkan kalau dalam kajian jurnalistik, menyusun berita adalah sebuah proses mengumpulkan informasi yang memuat 'fakta' yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H, yakni

  • Who - siapa yang terlibat di dalamnya? 
  • What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa? 
  • Where - di mana terjadinya peristiwa itu? 
  • Why - mengapa peristiwa itu terjadi? 
  • When - kapan terjadinya? 
  • How - bagaimana terjadinya?

Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, yakni; observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita, pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik, proses wawancara dengan nara sumber, serta partisipasi dalam peristiwa.

Pelatihan jurnalistik ini menjadi salah satu upaya memberi keterampilan penulisan kepada warga, agar masayarakat dapat berperan aktif menuliskan kegiatan masyarakat di sekitarnya untuk dipublikasikan. | baca juga berita pelatihan ini di portal berita Tribunnews.

Citrep Pertama Tahun 2012

3 Januari 2012 1 Komentar

KEMARIN Harian Tribun Timur memuat citizen reporter (populer disebut Citrep) saya yang pertama di tahun 2012. Citrep yang dimuat di halaman 11 itu merupakan laporan kegiatan Pemkab Maros pada malam pergantian tahun lalu.

Untuk Tribun Timur, saya terbilang rutin ber-citrep. Dalam dua tahun ini, setidaknya ada 80-an citrep saya yang telah diterbitkan Tribun.

Awalnya aktifitas citrep ini saya lakukan di website Panyingkul.com yang memang mengusung semangat jurnalisme warga, sejak tahun 2006. Sampai sekarang, saya rutin mengirimkan berita ke sejumlah portal berita online, tentu selain website dan blog yang saya kelola.

Lantas apa yang dimaksud citrep? Dalam berbagai literasi, istilah citizen reporter digunakan bagi warga biasa (non-wartawan) yang memiliki minat terhadap kegiatan jurnalistik dan penulisan yang kemudian mengirimkan laporan atau berita ke media. Citizen reporter juga disebut citizen journalism atau jurnalisme warga.

Pengertian dasar citizen journalism ini adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Tipe jurnalisme seperti ini akan menjadi paradigma dan tren baru tentang bagaimana pembaca atau pemirsa membentuk informasi dan berita pada masa mendatang.

Di Indonesia, perkembangan jurnalisme warga dipicu ketika terjadi tragedi Tsunami di Aceh yang diliput sendiri oleh korban tsunami, pada tahun 2004 lalu. Terbukti berita langsung dari korban dapat mengalahkan berita yang dibuat oleh jurnalis profesional.

Meski sebenarnya kegiatan jurnalisme warga di kalangan masyarakat Indonesia sudah berlangsung lama. Beragam media digunakan sebagai penyalur aspirasi rakyat, seperti surat pembaca di media cetak atau informasi lalu lintas yang biasanya disampaikan pengguna jalan ke stasiun radio.

Saat internet dan media sosial mengalami ledakan pengguna, aktifitas ini mendapatkan momen terbaiknya, yaitu dengan digunakannya Twitter, Facebook dan blog sebagai media untuk menyampaikan pendapat ataupun informasi oleh masyarakat secara langsung. Aktifitas ini pun mulai jadi tren, khususnya di kalangan pengguna internet.

Seorang Blogger, Jeff Jarvis bahkan menyebut citrep jurnalisme hyperlocal, seperti situs berita online yang mengundang kontribusi dari warga untuk melaporkan tentang topik berita yang surat kabar konvensional cenderung abaikan.

Citrep adalah revolusi penting dalam media massa dan di Makassar (bahkan di Sulawesi Selatan) Tribun Timur adalah pelopornya. Terima kasih Tribun Timur, ayo terus mengabarkan. | **

 
lihat versi baru dari blog ini: IHSYAH blogwork | lihat juga BLOGSPOTISME