Tampilkan postingan dengan label Kompetisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompetisi. Tampilkan semua postingan

Memperkenalkan Oleh Oleh Makassar

25 Maret 2012 3 Komentar

oleh oleh makassarPEKAN lalu, bersama teman-teman pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Maros, saya berkesempatan menerima kunjungan pengurus KNPI Kota Baru, Kalimantan Selatan dan memperkenalkan Oleh Oleh Makassar.

Kedatangan pengurus KNPI Kota Baru yang berjumlah 10 orang itu untuk mengikuti pelatihan usaha kecil menengah pemuda yang berlangsung di Kota Makassar.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Transcoffe Maros itu, kami membincangkan potensi dan perkembangan kedua daerah. Mulai dari batubara hingga kuliner. Kota Baru memang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara di pulau Kalimantan, selain itu memiliki keragaman kuliner.

Dari sekian banyak perbincangan, kami akhirnya tertarik mengulas tentang pembinaan pemuda dalam ekonomi kerakyatan serta bagaimana KNPI berperan dalam upaya membangun perekonomian daerah.

Oleh Oleh Makassar: Putu Kacang, Baruasa, dan Kripik Wijen

Dalam kesempatan itu, Oleh Oleh Makassar yang kami perkenalkan adalah salah satu produk kuliner khas Bugis-Makassar buatan Maros, yakni; putu kacang, baruasa dan kripik wijen yang dikelola salah satu tokoh pemuda Maros, Alimin Assaggaf.

Kuliner berbentuk penganan ini telah dikemas secara eksklusif dan sudah dipasarkan di sejumlah toko yang menjajakan oleh-oleh khas Makassar, termasuk di kawasan Bandara Sultan Hasanuddin. Penganan ini juga sudah dijual ke Jakarta, Surabaya, Jayapura dan berbagai kota di Indonesia.

Menurut Alimin, produk ini diproduksi oleh home industry beratribut Panorama Food yang didirikannya pada tahun 2003. Dengan tetap menggunakan bahan alami tanpa campuran perasa dan pewarna penganan ini diolah berdasarkan resep tradisional turun-temurun.

Usai berbincang dan mencicipi putu kacang, baruasa dan kripik wijen ini, rombongan pengurus KNPI Kota Baru itu menyempatkan diri mengunjungi Panorama Food untuk menyaksikan secara langsung kue tradisional Bugis-Makassar ini diproduksi.

Oleh Oleh Makassar: Penanda Kebudayaan

Bagi Alimin Oleh Oleh Makassar, terutama putu kacang bukan sekadar penganan, produk ini bisa menjadi penanda kebudayaan yang memutar gerak roda ekonomi.

Sesungguhnya, proses ini pernah mengalami stagnasi selama kurang lebih 5 tahun, ketika Alimin diamanahkan menjadi Kepala Desa Tompobulu di Kecamatan Tompobulu, sebuah wilayah pengembangan di bagian selatan Kabupaten Maros. Saat amanah itu berjalan 2 tahun, Alimin 'menghidupkan' kembali Panorama Food bersama sang istri, Hj Syarifah Munirah Assagaf.

Sebagai penanda kebudayaan, putu kacang yang terbuat dari kacang hijau dan gula yang dibentuk dari lekukan kayu dengan proses pengeringan yang runut, bukan saja nikmat menjadi penganan teman minum tah atau kopi di sore hari, tapi juga menyimpan sebuah pesan yang datang dari masa lalu tentang banyak nilai.

Bubuk kacang hijau dan gula halus yang mengkristal ditangkap sebagai sebuah pesan tentang kelembutan sikap dan kemanisan bertutur manusia Bugis-Makassar. Saat keduanya berbaur dalam wadah kayu berukir 'colli paku' membentuk kotak mini yang kuat melambangkan kalau dalam keramahan dan kehalusan tutur kata manusia Bugis-Makassar selalu ada keteguhan yang kuat.

Oleh Oleh Makassar: Maskot Penganan Tradisional

Jika bagi banyak orang, kebudayaan adalah sikap, kostum dan kadangkala perayaan pada momen tertentu. Alimin malah merekonstruksi nilai budaya pada hal yang jauh lebih sederhana lewat produk penganan ini.

Alimin tidak hanya ingin memperkenalkan putu kacang, baruasa dan kripik wijen sebagai salah satu produk budaya tradisional Bugis-Makassar belaka, namun berikhtiar mensejajarkannya dengan Bika Ambon dari Medan, Manisan Pala dari Manado, empek-empek dari Palembang atau Amplang dari Kalimantan.

Serta bertekad menjadikan putu kacang, baruasa dan kripik wijen produknya ini sebagai maskot Oleh Oleh Makassar dalam kemasan eksklusif bergambar Pa'raga. | *

Oleh Oleh Makassar - Panorama Food memproduksi kue tradisional Bugis-Makassar yang diolah dari bahan baku pilihan dengan resep asli tradisional tanpa bahan pengawet. Tersedia dalam kemasan Dos dan Toples, dengan tidak meninggalkan kesan corak budaya Bugis-Makassar. Cocok untuk oleh-oleh atau buah tangan buat keluarga dan teman-teman. Hubungi; (0411) 248 7603 dan HP 085 255 924 999.

Makna Sebutan Butta Salewangang

23 Februari 2012 1 Komentar

butta-salewangangPADA halaman dokumen yang saya baca siang ini, terdapat satu kalimat yang menyebut Kabupaten Maros Butta Salewangang.

Tertarik mencari tahu makna dan arti kata ini, saya pun melakukan penelusuran media. Membuka-buka halaman surat kabar lokal yang pernah memuat berita seputar Maros.

Nama Butta Salewangang memang kerap digunakan sebagai nama pengganti dalam menyebut Kabupaten Maros.

Istilah ini sama dengan sebutan Kota Anging Mammiri untuk Kota Makassar, Butta Panrita Lopi untuk Bulukumba, Bumi Massenrempulu untuk Enrekang, juga sebutan Paris van Java untuk Kota Bandung.

Tak puas dengan simpulan itu, saya pun menelusurinya lebih mendalam, sampai menemukan sebuah dokumen yang bercerita tentang Karaeng Loe ri Pakere, Raja pertama Kerajaan Marusu' yang eksis sekitar tahun 1471.

Asal Mula Istilah Butta Salewangang

Butta Salewangang mulai disebut di masa pemerintahan Tumanurung atau manusia titisan dewa yang hadir ke bumi tanpa dilahirkan ini di wilayah yang menjadi cikal-bakal Kabupaten Maros ini.

Karaeng Loe ri Pakere hadir dalam kondisi masyarakat yang tak menentu, masyarakat masa itu tidak lagi mau mendengar perkataan dan perintah pemimpin yang ada, hukum tak dapat ditegakkan dan aturan banyak dilanggar. Masa ini disebut jaman sikanre-bale atau 'saling memangsa'.

Pada Masa itu, tanaman juga tak membuahkan hasil, hujan turun terus menerus diiringi gemuruh yang terjadi dalam tujuh hari tujuh malam. Namun tiba-tiba muncul sebuah istana yang oleh masyarakat disebut Saoraja berdiri di tengah-tengah bidang tanah di Pakere. Bersamaan dengan itu terlihat pula seseorang yang duduk di depan tangga istana itu.

Mendengar hal ini, orang-orang pun berdatangan memberi penghormatan, lalu mengangkat Tumanurung ini menjadi pemimpin dan diberi gelar Karaeng Loe ri Pakere. Sejak itu tanaman pun tumbuh dengan subur dan membuahkan hasil melimpah.

Dalam pemimpin, Karaeng Loe ri Pakere senantiasa membangkitkan eksistensi kerajaan dalam mengemban amanah rakyat. Terutama dalam memposisikan Kerajaan Marusu' sebagai daerah berpemerintahan kuat dan disegani. Keadaan rakyat pun hidup aman, damai dan sejahtera, lahir-bahtin, karenanya daerah ini disebut Butta Salewangang.

Makna dan Arti Kata Butta Salewangang

Butta Salewangang berasal dari bahasa Makassar, terdiri dari dua kata, yakni; Butta yang berarti Tanah atau Daerah dan Salewangang yang berarti Subur, Makmur atau Sejahtera. Sehingga menurut istilah Butta Salewangang diartikan sebagai; "daerah yang subur dengan masyarakat yang makmur".

Posisi Kerajaan Marusu' yang strategis merupakan daerah pertanian yang subur dan menggiurkan dua kerajaan utama yang ada di sekitarnya untuk mengeksekusinya secara politik dan ekonomi, yaitu; Kerajaan Bone di sebelah timur dan Kerajaan Gowa di sebelah selatan.

Sekitar Abad XVIII, wilayah Kerajaan Marusu' terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil dan menggabungkan diri dalam persekutuan Toddo Limayya ri Marusu’, Lobbo Tengngae, dan Gallarang Appaka. | **

Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulsel

15 Desember 2011 6 Komentar

KALAU senang dengan suasana alam yang asri, maka kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung jadi pilihan tepat. Sebagai andalan pariwisata Kabupaten Maros, banyak orang menyebutnya; "Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan".

bantimurung

Kawasan ini hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Makassar (ibukota propinsi Sulawesi Selatan) atau sekitar 20 kilometer dari Bandara Sultan Hasanuddin. Jika dari kota Turikale (ibukota Kabupaten Maros) jaraknya hanya kurang lebih 10 kilometer.

Menjangkaunya juga mudah, dari Makassar dengan angkutan umum atau pete-pete waktu tempuhnya sekitar 3 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi, waktu tempuhnya hanya sekitar 2 jam. Dari kota Turikale membutuhkan waktu tak kurang dari 30 menit.

Daya tarik utama objek wisata ini adalah air terjun yang sumber airnya berasal dari alam dan mengalir di antara bebatuan hitam yang nampak kontras dengan aliran air yang bening memutih. Sempurna dengan panorama alamnya yang menakjubkan karena terletak di lembah gunung kars.

Dibalut udara yang sejuk, di sini dapat diamati aksi beragam jenis kupu-kupu, baik yang hidup di alam bebas maupun yang hidup dalam penangkaran. Juga beragam spesies kupu-kupu khas dan langka yang dipajang dalam Museum Kupu-kupu yang terdapat dalam kawasan ini.

Sebagai habitat kupu-kupu langka, Bantimurung sudah terkenal dari dulu. Naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallacea bahkan menjuluki tempat ini "The Kingdom of Butterfly". Pada sekitar 1856-1857 Wallacea memang menghabiskan waktunya di kawasan ini untuk meneliti 150 spesies kupu-kupu langka.

Perjalanan menuju Bantimurung tak kalah menyenangkan. Jika sudah melewati kota Turikale, di sebelah kiri jalan akan nampak deretan bukit kars di belakang persawahan. Semakin mendekati lokasi, bukit kars yang ditumbuhi pepohonan alam semakin nampak jelas.

Gerbang utama tempat wisata pun unik, berbentuk kupu-kupu berukuran raksasa, berwarna hitam bergaris hijau, mengambil motif kupu-kupu endemik Bantimurung: papilio blumei. Di belakang gerbang ini terdapat patung monyet putih yang juga berukuran besar. Konon, kawasan ini dulu dihuni kera berbulu putih.

Melewati gerbang utama, pengunjung akan mencapai area parkir dan loket karcis. Tiket masuk Bantimurung cukup murah, hanya Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Harga karcis ini jauh lebih murah dibanding tanda masuk taman rekreasi sejenis yang ada di Indonesia. Membuatnya selalu dipadati pengunjung, terutama di hari libur.

Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan: Marosatherina Jadigesi dan Gua Alam


bantimurung

Selain kupu-kupu, di kawasan ini juga hidup ikan langka yang disebut Beseng-beseng atau Celebes rainbowfish (Marosatherina jadigesi). Ikan ini dibudidayakan di kolam dekat air terjun. Selain terdapat di Bantimurung, ikan yang mencapai ukuran panjang 55.4 mm ini juga terdapat di sungai Patunuang.

Keunikan lain kawasan ini adalah terdapat banyak gua alam, diantaranya Gua Mimpi dan Gua Batu. Gua Mimpi terletak di sisi kanan aliran air terjun, sementara Gua Batu terletak di atas air terjun. Bagi pengunjung yang beragama Islam, di sini terdapat Mushalla yang terbuat dari struktur beton menyerupai akar pohon dan jamur raksasa dengan warna hijau alami karena ditumbuhi lumut.

Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan: Pusat Kuliner dan Cenderamata


Untuk pengunjung yang tak sempat membawa bekal, tersedia beragam menu makanan dan minuman khas Bugis-Makassar di pusat kuliner yang berada di sekitar tempat parkir dekat loket pintu masuk. Di pusat jajan ini pengunjung dapat menikmati coto makassar, pallubutung, jalangkote, serta banyak penganan lainnya. Juga terdapat kios-kios yang menawarkan jagung bakar, jagung rebus dan cemilan.

Sekitar tempat parkir juga terdapat deretan kios cenderamata. Kupu-kupu awetan yang dipajang dalam bingkai kaca merupakan cenderamata yang banyak diminati. Kupu-kupu itu merupakan spesies khas hasil perburuan di kawasan ini. Cenderamata lain yang dijajakan adalah kaos, topi, tas dan sebagainya yang juga dilengkapi gambar atau ilustrasi kupu-kupu.

bantimurung

Dengan segala keunikan dan daya tariknya ini, tak salah memang jika para penggiat blog Komunitas Blogger Maros menyebut; "Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan".

Lomba Blog Tentang Bantimurung

1 Desember 2011 0 Komentar

KOMUNITAS Blogger Maros (KBM) menggelar lomba blog semi SEO dengan keyword; Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan.


Kompetisi ini bebas diikuti oleh siapapun, sepanjang memiliki keterkaitan dengan Kabupaten Maros. Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia dengan panjang tulisan 500 sampai 700 kata, menggunakan gaya bahasa bebas-santai-sopan, tidak harus berdasarkan EYD.

Artikel harus dilengkapi dengan foto Bantimurung sebagai objek wisata terbaik di Sulawesi Selatan (diutamakan foto milik sendiri). Isi artikel harus bisa menjawab dengan baik dan jelas 2 (dua) pertanyaan umum ini;
  1. Di mana lokasi Bantimurung?
  2. Kenapa Bantimurung disebut objek wisata terbaik di Sulawesi Selatan?
Kompetisi dinilai berdasarkan urutan 10 (sepuluh) teratas (halaman 1) hasil pencarian di google.co.id dengan kata kunci “Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan” pada tanggal 1 Januari 2012, jam: 00.10 WITA.

Peserta wajib memberikan backlink URL ke http://bloggermaros.com dengan title “Komunitas Blogger Maros” dan URL http://www.maroskab.go.id dengan title ”Maros” (disebut dalam artikel yang dikompetisikan). Artikel dilarang keras copy-paste! Meskipun mencantumkan sumber artikel.

Informasi lebih lengkap tentang kompetisi ini dapat dilihat di website bloggermaros.com. Jadi, ayo segera buat artikel tentang Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan!

Salonfoto Indonesia Digelar di Makassar

24 Juli 2011 0 Komentar

SALONFOTO Indonesia XXXII/2011 yang digelar oleh Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) di Makassar dengan pelaksana Perkumpulan Fotografer Makassar (PERFORMA) sudah dibuka.

Lomba foto tahunan paling bergengsi ini terbuka bagi penggemar fotografi yang berdomisili di Indonesia, baik itu warga Negara Indonesia, warga negara asing dan warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negeri.

Foto-foto yang diikutsertakan pada salonfoto ini tidak boleh mengandung unsur SARA, sadisme, dan pornografi/nude photography. Semua foto yang diikutsertakan, termasuk file-file tambahan untuk mengolah harus merupakan hasil karya sendiri yang bisa dibuktikan secara sah bila diperlukan.

Kategori dan tema yang diperlombakan meliputi; Kategori CETAK WARNA (CW) dengan tema bebas. Kategori CETAK MONOKROM (CM) dengan tema bebas. Kategori SOFT-COPY (SC)/Electronic Imaging dengan tema bebas/kreatif inovatif. Kategori CETAK JURNALISTIK (CJ) dengan tema bebas dan sesuai prinsip kode etik jurnalistik.

Batas penerimaan karya pada 20 Agustus 2011 dan pelaksanaan penjurian pada 11 - 14 September 2011. Sementara pameran foto dan pengumuman pemenang dilaksanakan pada 11-17 November 2011.

Informasi lebih lanjut dan formulir pendaftaran dapat didownload di situs PERFORMA. | **

Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2009

26 Desember 2009 0 Komentar

UNTUK memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para pewarta foto maka untuk pertamakalinya Pewarta Foto Indonesia (PFI) menyelenggarakan lomba foto Anugerah PFI 2009.

Lomba foto hanya terbuka untuk pewarta foto (WNI) yang bekerja di media massa lokal, nasional, dan kantor berita asing atau pewarta foto lepas yang bekerja untuk media cetak atau online di seluruh Indonesia. Foto yang dilombakan tidak harus dimuat.

Peserta wajib melampirkan foto copy Id Pers dalam format digital. Bagi pewarta foto lepas harus bisa menunjukkan nama media, melampirkan surat penugasan, dan mengisi kontak person referensi seseorang dari media yang menugaskan pada formulir pendaftaran. Peserta wajib mengisi dan melampirkan formulir pendaftaran.

Formulir pendaftaran bisa diunduh di www.pewartafotoindonesia.com. Lomba ini tidak dipungut biaya. Semua karya foto tunggal atau esai harus diambil pada periode waktu antara 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Desember 2009.

Peserta wajib mengirimkan karya foto dengan format JPG ke alamat email: anugerah@pewartafot oindonesia.com dan via pos ke alamat; Sekretariat Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2009, jalan Lawu Nomor 11 Guntur, Jakarta Selatan, 12980. Kedua cara pengiriman tersebut wajib dilakukan peserta. Jika tidak, panitia berhak melakukan diskualifikasi.

Panitia akan memberi konfirmasi melalui email kepada seluruh peserta yang telah mengirimkan foto. Sisi terpanjang foto yang dikirim melalui email adalah 2000 pixel skala medium dan via pos dengan sisi terpanjang minimal 3000 pixel skala tertinggi. Foto yang dikirim melalui pos harus disimpan dalam bentuk cakram padat (CD).

Karya fotojurnalistik yang dikirim harus benar-benar karya orisinal. Olah digital pada karya yang dikirimkan diperbolehkan sebatas minor editing. Lomba foto terdiri dari 7 kategori yaitu: Sosial (Sos), Politik (Pol), Hukum (Huk), Ekonomi (Ek), Olah Raga (OR), Seni dan Buudaya (SB) dan Esai Foto (EF).

Jumlah foto yang dikirim untuk kategori maksimal 5 foto per kategori. Untuk kategori Esai Foto maksimal megirimkan 2 tema, tiap tema maksimal tujuh foto.

Penamaan file foto harus disesuaikan berdasarkan ketentuan; Nomor Foto_Kategori_ Judul_Nama Media_Nama Fotografer. Penulisan kategori disingkat sesuai ketentuan di atas. Contoh: 1_Sos_Menangis_ Jakarta Post_Ricky Yudhistira.jpg atau 2_Sos_Terbakar_ Jakarta Post_Ricky Yudhistira.jpg

Batas akhir pengiriman foto via email dan pos tanggal 7 Januari 2010 (cap pos). Foto yang dikirim ke panitia lomba tidak dikembalikan dan akan digunakan untuk kepentingan PFI selama maksimal dua tahun. Total hadiah lomba foto Anugerah PFI 132 juta ditambah tropi.

PFI menunjuk tim juri independen yang terdiri dari lima pewarta foto, anggota dewan juri, Oscar Motuloh (Kantor Berita Antara), Julian Sihombing (Harian Kompas), Seno Gumira Ajidarma (Seniman), Kemal Jufri (Freelance dari Imaji) dan Enny Nuraeni (Kantor Berita Reuters).

Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. Juri memiliki hak untuk menolak satu karya yang didaftarkan yang dianggap tidak memenuhi persyaratan. | **

 
lihat versi baru dari blog ini: IHSYAH blogwork | lihat juga BLOGSPOTISME