Galau: Salah Bahasa dan Kepribadian Remaja

25 Mei 2012

Galau Kepribadian RemajaKATA galau saat ini begitu tren, terutama dikalangan anak muda. Tiap saat, kata galau mudah ditemukan, terutama di media sosial. Bahkan televisi juga ikut mempopulerkan istilah yang dimaksudkan untuk suasana hati yang kacau ini.

Dikalangan anak muda, istilah galau dipahami sebagai keadaan kejiwaan yang dilandasi rasa kurang percaya pada orang lain saat menghadapi masalah (cenderung soal percintaan).

Seseorang yang sedang galau tidak mempercayai orang-orang terdekatnya, cenderung lebih mencintai kesendirian, kesakitan dan ketersesatan, merasa tidak (kurang) diperhatikan atau dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.

Seorang yang galau selalu mencari perhatian dan merasa patut dikasihani dengan melakukan aktifitas "update status" pada situs jejaring sosial dengan kalimat-kalimat sakit hati dan kekecewaan.

Namun sebenarnya, kata galau yang populer saat ini adalah ungkapan yang salah, sebuah salah kaprah bahasa yang dilazimkan. Mengapa? Bahasa Indonesia mengartikan "ber-galau" sebagai sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); sementara "kegalauan" berarti sifat yang kacau tidak keruan (pikiran) dan "kegalauan" juga berarti sifat (keadaan hal) galau.

ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau
(Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008), halaman 407)

Merujuk defenisi di atas, keadaan galau mesti dipahami sebagai suasana saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau adalah orang yang pikirannya sedang kacau. Kacau menurut kamus diartikan (salah satunya, terutama berkaitan dengan pikiran) kusut (kalut) tidak keruan.

Dalam bahasa Indonesia, kata galau yang dipahami selama ini sebagai situasi sakit hati dan kekecewaan bukanlah kata yang pas. Untuk suasana pikiran yang tengah bingung seperti itu, kata yang tepat dalam bahasa Indonesia adalah “gundah”. Kata “gundah” berarti sedih, bimbang, gelisah. Biasanya kata ini dilengkapi dengan kata gulana, menjadi “gundah-gulana” yang berarti keadaan sangat sedih atau sedih dan lesu.

Jadi suasana hati yang sering disebut sedang “galau” itu, sebenarnya lebih pas disebut "gundah.”

Selain salah kaprah bahasa, istilah galau bahkan berkembang jauh. Para remaja secara sadar mengganggap diri tak tren jika tak galau. Kondisi galau menjelma cerminaan kepribadian anak-anak muda yang cenggeng dan gampang menyerah.

Karena itu, saatnya generasi muda sadar untuk tidak membuat hatinya cenggeng dan semangatnya gampang menyerah hanya pada hal-hal sepele, hidup selalu punya tantangan. Saatnya anak muda tidak lagi memelihara sifat galau.

Ada baiknya, mulai memaknai "galau" dengan lebih positif, semisal GALAU sebagai God Always Listening Always Understanding atau Tuhan selalu mendengarkan selalu memahami. Selalulah bersemangat menjalani hidup, menjadi manusia yang tak mudah putus asa, bahkan karena cinta. | **

1 Komentar:

  1. islamnnyamuslim mengatakan...:

    bagaimana jika istilah galau sudah diartikan sebagaimana remaja sekrang mengartikan demikian?

    lagi pula mereka sudah menerjemahkannya sesuai dengan perkembangan tren yang ada

    jika remaja tidak mengatakan galau dan membenarkan kata gundah mereka cenderung dinilai katro atau orang arab bilang deng toa sekaliko

    sehinggga akhrinya kata galau tidak dilihat dari sudut pandang remaja, melainkan dari sudut pandang gaya dan ikut-ikutan

Posting Komentar

 
IHSYAH blogwork | lihat juga BLOGSPOTISME