BANYAK masjid yang ditengarai arah kiblatnya melenceng dari arah ka’bah. Hal ini kemudian memicu perbincangan mengenai arah kiblat masjid di Indonesia yang dianggap salah terus mencuat.
Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI) Ahmad Izzuddin menyatakan untuk mendapatkan keyakinan dan kemantapan amal ibadah, maka harus berusaha agar arah kiblat sholat mendekati persis kepada arah Baitullah.
Izzudin pun menjelaskan bahwa ada sistem penentuan arah kiblat yang dapat dikategorikan akurat, seperti dengan menentukan azimuth kiblat dengan scientific calculator atau dengan dibantu alat teknologi canggih seperti theodolite dan GPS (Global Position System).
“Saat pendirian masjid zaman dulu belum ada alat ini sehingga banyak masjid yang melenceng arah kiblatnya,” kata Izzuddin sebagaimana dilansir Tempo, Kamis (15/7).
Bisa pula dengan cara tradisional, yakni melihat bayang-bayang matahari pada waktu tertentu (rashdul kiblat). Tapi harus diketahui data lintang dan bujur tempat serta mengetahui lintang dan bujur ka’bah.
Secara garis besar arah kiblat berdasarkan perhitungan astronomi untuk daerah Jawa Tengah sekitar 24 derajat 10 menit sampai 25 derajat dari titik barat sejati ke arah utara sejati. Sehingga dapat dicek dengan sudut busur tersebut setelah mengetahui arah utara–selatan sejati.
Salah satu cara tradisional yang dapat menghasilkan hasil akurat adalah dengan bayang-bayang matahari sebelum dan sesudah kulminasi matahari dalam sebuah lingkaran. Sementara dengan menggunakan kompas, kata Izzuddin, masih sebatas ancar-ancar yang masih perlu dicek kebenarannya.
Sebab, berbagai model kompas termasuk kompas kiblat masih mempunyai kesalahan yang bervariasi sesuai dengan kondisi tempat (magnetic variation). | bahan bacaan Tempointeraktif.
Mari Meluruskan Arah Kiblat
IHSYAH
16 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Populer
-
Dalam aktifitas blogging, blogwalking dipahami sebagai salah satu bentuk silaturahmi antar blogger. Kegiatan mengunjungi blog orang lain ini...
-
KOMPILASI seniman Maros tampil menyajikan tari tradisional 4 etnik; Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang diisi tradisi Angngaru di ruang...
-
SEUSAI mengirim citizen reporter untuk media lokal di Makassar, sebuah pesan baru hadir di inbox email saya. Pesan itu datang dari teman-te...
-
PADA acara lepas tahun 2011, Bupati Maros HM Hatta Rahman mengemukakan, dalam tahun 2012 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros akan melakukan...
-
JIKA di banyak daerah di Indonesia, opor ayam, rendang atau semur menjadi hidangan utama dalam merayakan lebaran Idul Fitri, namun di Makass...
-
SEBUAH buku tentang Aceh terbit. Buku itu berjudul; "Aceh Dukaku, Sebuah Tanda Kabung" diterbitkan sebagai sumbangan renungan pemi...
-
AKHIR pekan ini, saya memilih berkumpul dengan teman-teman lama. Teman-teman kampus yang dulu 'senasib' merambah rimba pengetahuan d...
-
“YA ALLAH, berilah aku kesempatan menghirup udara bulan Ramadhan,” begitulah doa para sahabat generasi awal Islam. Doa itu mereka lantunkan ...
0 Komentar:
Posting Komentar